Untuk Seorang yang Aku Hanya Kenal Namanya


Aku sangat suka membaca buku biografi. Dan sejak punya penghasilan sendiri aku rutin membeli buku setiap bulannya. Tentu tak selalu buku biografi. Aku mengoleksi berbagai macam buku, ada komik, novel, buku agama, filsafat dan buku apa saja. Aku membacanya agar pengetahuanku tak tentang hal itu dan itu saja. Menambah wawasan dengan bacaan, meski setelah di baca aku banyak lupanya. Terkadang membaca buku untuk membunuh waktu di kereta saat berangkat kerja. Mungkin sebagian orang berpikir, mengapa harus membeli dan membaca buku cetak, ini kan zaman sudah maju, buku-buku elektronik banyak dan mudah di unduh, simple dan ga perlu berat-berat membawa dan ga ribet kalo ingin baca. Tapi buatku, ada kesenangan tersendiri saat membalikkan halaman perhalaman sebuah buku, ada kebahagiaan tersendiri ketika halaman yang tersisa semakin sedikit. Rasanya seperti aku sedang berjuang menuju satu titik, menuju satu kata, akhir dari sebuah perjalanan. Dan melanjutkan dengan buku lainnya. Itu sangat bahagia untukku.

Bulan kemarin, akhir Januari 2016 aku membeli buku setebal kurang lebih 500an halaman, tentang seseorang. Seseorang yang telah lama aku kenal dari dunia bacaan, dia hidup hingga akhir tahun 1969, hingga sehari sebelum usianya genap 27 tahun. Seorang yang dulu membuatku semangat menjadi seorang aktivis, dan berharap menemukan orang-orang seperti dia. Tapi, pada akhirnya aku memilih, menarik diri dari dunia gelap tanpa arah itu. Aktivis tahun 60an sangat berbeda degan tahun 2010an. Hingga aku jadi apatis, acuh tak acuh pada dunia perpolitikan kampus dan terlebih pada perpolitikan negara. Orang yang aku percaya, orang yang aku kira sejalan pemikirannya, teman diskusi tukar pikiran, ternyata….. tak perlu di jelaskan, aku sudah melupakannya, dan tak ingin mengingatnya lagi dan lagi.

Selama aku jadi aktivis, aku tahu tak banyak yang aku lakukan. Seingat aku, waktu malam-malam ku hanya aku habiskan untuk rapat-rapat, yang kini aku sadari, ngga penting. Pembahasan tentang masalah-masalah internal, bukti nyata hanya sekitar 12-15%. Untuk internal saja hampir tak ada bukti nyata apalagi untuk negara. Idealis atau realistis? Aku tak tahu, siapa aku, atau hanya ikut-ikutan meramaikan. Dulu sekali dua kali, aku pernah ikut turun ke jalan. Disana aku mendapatkan satu jawaban dan satu kebenaran. Saat itu di depan pintu gerbang MPR, ka Ari, wapresma, bilang seperti ini, “mereka takut pada mahasiswa. Mereka pasti tak ingin kejadian 1998 terulang kembali”. Mungkin ka Ary benar, tahun 1960an yang menggulingkan rezim orde lama, adalah mahasiswa juga kan di bawah pimpinanmu kan, aktivis sejati? Dan tahun 1998, terulang kembali, rezim orde baru di gulingkan oleh aktivis-aktivis sejati. Dan aku merasakannya di tahun itu, tahun yang katanya akan di bangun gedung baru untuk MPR. Tahun itu, tahun dimana pertama kalinya aku merasakan menjadi seorang demonstran. Tahun itu, tahun dimana kita membawa nama BEM SI, namun yang datang hanya perwakilan. Tahun dimana kita membawa spanduk panjang, bertuliskan penolakan untuk pembangunan gedung baru MPR yang di tanda tangani oleh semua orang yang lewat di depan gedung MPR. Stasiun TV meliput apa yang kita lakukan, dan hilang sehari itu saja. Iya kan? Entah apa yang di perbincangkan dan negosiasi seperti apa yang terjadi di dalam sana, aku tak tahu. Tak ada cerita lebih lanjut, hanya sepenggal sms dari ka Reza tentang rayuan yang di tolak mentah-mentah oleh mereka. Namun hingga tulisan ini terbit di sini, MPR masih menggunakan gedung yang lama, belum ada kabar pemberitaan telah di bangun gedung MPR baru.

Aksi kedua dan terakhir yang aku ikuti adalah malam perenungan hari pendidikan di Tugu kujang, 2 mei. Malam itu di guyur hujan, basah, dingin dan di tambah hembusan angin kendaraan yang lewat dan angin alam kota bogor. Terasa indah dan membahagiakan jika di ingat. 🙂

Pada akhirnya aku memutuskan untuk menarik diri dari dunia itu, dari dunia yang aku rasa aku tak bisa menjadi aku, tak ada teman sepemikiran. Aku memilih jalan yang berbeda di persimpangan. Aku benci kebohongan, sandiwara dan seperti kata Herman O Lantang, ‘politik tai kucing‘. Aku berhenti, seutuhnya berhenti. Tak peduli, sangat-sangat tak peduli. Apatis, menutup mata dan telinga. Hingga diskusi yang terjadi hanya tentang codding, hardware, networking, pacaran, makanan dan jalan jalan. Seperti yang sering aku baca di bukumu, akhirnya hidupku hanya tentang, buku, pesta dan cinta.

Aku lahir di tahun 90an, tentu aku hanya bisa mengenalmu dari tulisan. Seandainya aku lahir lebih awal, tentu saat ini aku sudah tua. >_<. tentu aku bisa mengenalmu, berdiskusi denganmu, bertukar pikiran dan belajar banyak dari tulisan-tulisanmu yang terkenal itu. Mungkin aku takkan melarikan diri dari kata aktivis. Aku akan jadi aktivis sejati, sepertimu. Aku takkan kehilangan arah, seperti waktu itu. Aku menyukai tulisanmu, pemikiranmu dan puisi-puisimu. Aku rasa, kau takkan menyukaiku, karena aku lari dari keputusanku, dari pilihanku, dari sumpah seorang aktivis. Kau pasti membenciku yang ingkar dari tugas-tugas aktivis dan menjadi apatis. Aku sendirian, Gie. Aku tak bisa berbohong dan bermuka dua. Aku tak punya kawan diskusi yang sejalan. Diskusi hanya diskusi,tanpa ada pemahaman dan tanpa jawaban memuaskan. Aku bosan. Dan tak ada yang bisa aku lakukan, aku merasa sangat kesepian dan sendirian, Gie.

Membaca buku tentangmu, rasanya kita pernah saling mengenal, rasanya seperti aku mengenalmu dengan baik. Mungkin karena aku sangat mengagumimu, atau mungkin karena aku terlalu menghayati buku yang aku baca. Atau entahlah aku tak tahu mengapa. Membaca tempat-tempat yang sering kau kungjungi puluhan tahun lalu, yang kini masih berdiri kokoh, seperti TIM, aku mencoba mereka-reka bayanganmu di setiap sudut jalan. Mencoba membayangkan suasana temaram 46an tahun silam. Entahlah, tapi yang aku tahu pasti kini kau berada di keabadian, yang tersisa hanya kenangan akan perjuangan yang kau lakukan. Sisa raga kokohmu yang di tebar di lembah kasih, lembah Mandalawangi, lembah kesukaanmu, yang kini mungkin tak seindah dan seasri dulu.

Aku akan teruskan membaca buku ini, dan mungkin jika bertemu dengan buku lainnya aku akan koleksi buku harianmu. Aku kira, aku juga harus mulai menulis buku harian sepertimu. Mungkin dalam versi kekinian. 😀 dan mencantumkan poto-poto dari momen yang pernah ada dalam hidupku. Siapa tahu, suatu saat nanti ada yang mengagumiku, dan ingin tahu perjalanan hidupku. 🙂

Selamat pagi Soe Hok Gie, Seorang yang Aku Hanya Kenal Namanya…

Bogor, Minggu, 21 Februari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s