Penikmat Langit


Jika orang lain selalu menilaimu tak baik, ingatlah Langit tak perlu menjelaskan bahwa ia tinggi.

Ya, jika langit mampu berbicara ia tak perlu menjelaskan semua itu kan? Mungkin ia akan selalu menyanyikan lagu kebijaksanaan. Menceritakan kisah-kisah penuh hikmah yang menggugah. Mungkin sesekali ia akan menjadi pujangga yang menyuarakan isak tangis kerinduan, yang membukakan rahasia perjuangan demi sebuah cinta yang sejati dan kegigihan demi sebuah prestasi. Dan mungkin, langitlah teman berkeluh kesah nan bijaksana, yang akan mendengarkan dan memberi gambaran. Namun, Tuhan sungguh Maha bijaksana, Ia jadikan langit tanpa suara. Ia jadikan langit seperti sebuah lukisan terindah yang menenangkan, menakjubkan seperti Aspirin bagi penikmat keindahannya. Sehingga, manusia mengadu dan berkeluh kesah hanya kepada-Nya. Ia lah penakluk semua permasalahan dan pemilik semua jalan keluar.

Aku rasa semua orang menyukainya, menatapnya hingga mengabadikan moment keindahannya. Aku tak bisa berpikir ada yang membencinya, karena Tuhan yang Maha baik itu menyediakannya secara gratis, seperti setiap molekul oksigen yang kita hirup setiap saatnya. Disanalah, aku menemukanmu, seorang penikmat langit yang sederhana dan bijaksana.

***

Aku menyukai langit, saat pagi ketika fajar mulai bercahaya di timur sana, setiap siang menikmati gulungan awan putih mencumbu langit biru, setiap sore saat perpisahan yang selalu berkesan dan meninggalkan keindahan dan ketika malam langit gelap bertabur satu dua bahkan ribuan bintang, sesekali tumpukan bintang itu di usik oleh seberkas cahaya yang berjalan menakjubkan. Bahkan ketika langit hanya hitampun aku menyukainya, disana banyak tersimpan keindahan jika kau mau melihat lebih dalam. Namun terkadang, aku terlalu sombong untuk memikirkannya, aku terlalu sibuk dengan diriku, aku terlalu egois untuk mengakui banyak hal. Mungkin karena aku manusia bukan peri. Ya tentu, jika aku peri, tentu aku tak disini bersamamu dan menemanimu.

Aku tak tahu, siapa yang lebih dulu. Aku yang menemukanmu atau kau yang telah lama menungguku. Aku sering menikmati langit sore di tempat ini dan aku tahu kaupun sama. Kau hanya duduk diam menikmati keindahan perpisahan di ufuk barat sana, mentari meninggalkan kita untuk sementara. Dan esok pada saatnya ia akan kembali dan menemani langit seperti hari-hari sebelumnya.

Aku suka mengabadikan lukisan-lukisan ciptaannya, namun tak setiap hari, aku memilihnya. Memilih yang aku sukai. Itu wajarkan, ingin memiliki apa yang aku sukai? Karena bagiku, tak semua moment indah dapat berulang dua kali sama persis. Dan aku ingin mengabadikan setiap itu, dan mungkin berbagi moment itu dengan orang lain yang ingin melihatnya. Dan aku merasa beruntung dan bersyukur atas apa yang aku miliki hingga saat ini. Termasuk memilikimu, sayangku.

Sekali waktu kita bercengkrama tentang banyak hal, tentang yang aku sukai dan yang kau sukai, tentang siapa aku dan siapa kau, tentang masa lalu dan masa depan yang menjadi harapan kau dan aku. Terkesan aneh dan terburu-buru bukan, tapi tak juga. Kita sering bersama menikmati lembayung senja yang menakjubkan dan kadang hujan menyembunyikan mentari dan ia pergi tanpa berpamitan pada kita. Namun yang kita tahu tetap sama, kita sudah lama bersama namun jarang bercerita. Hanya sekedar sapaan “hay” sebagai basa-basi pertanda kau atau aku tak sendiri.

Tapi hari ini, kau membuka pembicaraan yang panjang denganku.

“Ada apa denganmu akhir-akhir ini? Wajahmu terlihat sepuluh tahun lebih tua. Apa ada masalah?” kau membuka pembicaraan yang mengagetkanku.

“ah tidak, mungkin akhir-akhir ini aku terlalu sibuk bekerja sehingga lupa melakukan perawatan wajah.” jawabku dengan tidak memandangmu.

“Perawatan wajah? Benarkah kau melakukannya? Aku rasa kau hanya mencuci wajahmu dengan air sisa rendaman beras saja” Kau memandangku dengan tatapan mencari tahu namun tak yakin.

>”Kita bahkan tak bicara banyak hal. Mengapa kau menyimpulkan hal itu?” tanyaku penuh selidik.

“Aku tahu kau, aku memahamimu lebih dari siapapun.” jawabnya sambil tersenyum dan kembali menatap lukisan langit sore itu yang sangat indah lebih dari biasanya.

Aku hanya diam, kembali aku menatap langit yang sama dengannya, sesekali kereta api lewat dan menutup sebagian dari langit yang kami pandangi bersama. Aku tak mampu berkata-kata, meski banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya. Sebanyak apa yang ia tahu tentangku, kepada siapa ia bertanya semuanya, apa yang ia simpulkan tentang siapa aku. Akhirnya aku memilih diam sejenak, menyusun kata-kata, mungkin. Kembali aku mengingat, tak mungkin moment yang sama bisa terulang dua kali sama persis. Berisik suara kereta api membangunkanku dari lamunan. Namun, ia masih duduk dengan tenang di tempatnya. Diam dan sepertinya baru saja ia tersenyum karena sesuatu yang entah apa.

“hey, kamu. Apa yang membuatmu menyukai langit itu?” aku menunjuk kearah langit indah yang akan segera menjadi gelap itu.

“aku hanya menyukainya. Dan untuk menyukai sesuatu tak harus ada alasannya kan?” Ia menjawab sembari tersenyum tanpa memandang ke arahku.

“Ya, kau benar.” jawabku sedikit bergumam.

Suasana diantara kami hening kembali, hanya terdengar suara kereta api yang kembali melintas di hadapan kami. Sebenarnya, bukan itu yang aku ingin tanyakan padanya. Aku kembali merenung bagaimana cara mengatakannya. Angin berhembus dan mulai terasa hawa dingin pertanda gelap akan segera bertahta. Saat aku menoleh ke arahnya, ia sedang melirik ke arlojinya. Ah, mungkinkah ia akan segera pulang? Jika ia pulang, kapan aku bisa menemukan saat seperti ini lagi, saat-saat aku bisa bertanya tentang hal ini.

“Bolehkan aku bertanya sesuatu hal?” akhirnya itu yang keluar dari bibirku.

“ya silahkan” jawabnya singkat.

v”Mengapa kau bisa mengatakan, kau mengenaliku lebih dari siapapun? Seingatku kita belum pernah bertemu sebelumnya.” Aku heran, dan aku tak tak tahu apakah pertanyaan ini sopan atau tidak.

“Tak perlu bertemu berkali-kali denganmu, hingga aku bisa tahu siapa dan bagaimana dirimu”. Jawabnya tetap tanpa memandangku.

“Aku tak mengerti..” Jawabku dengan pandangan aneh kearahnya.

“Apakah aku harus menjabarkan semua yang aku tahu tentangmu. Apakah kau tak malu kepadaku, jika aku mengatakan semua yang aku tahu?” ia tersenyum dan sedikit tertawa menjawabnya.

“Aku tak peduli, aku hanya ingin tahu, sejauh mana kau mengetahui tentangku” jawabku tak sabar.

“baiklah, aku perbaiki penyataanmu, bukan sejauh mana aku mengetahui tentangmu, tapi sejauh apa aku memahamimu. Itu lebih cocok” jawabannya kembali membuatku bingung.

“kau sederhana, manisku. Sesederhana perpisahan langit dan mentari kala malam akan datang. Tak semua orang menikmatinya, tak semua orang memahaminya. Sama denganmu, tak semua orang mampu memahami kesederhanaanmu.” ia menjawab tetap tanpa memandang kearahku.

“apa? Ia memanggilku dengan sebutan “manisku”, panggilan macam apa itu. Ia mulai membuatku gila dengan semua ucapan dan tingkahnya itu” aku hanya bergumam sendiri tanpa di dengarnya, orang ini benar-benar membuatku kesal -_-‘ .

“aku rasa kalimat itu sudah cukup jelas untuk menjawab pertanyaanmu, kan? Kali ini ia memandang wajahku yang bingung sembari tersenyum.

“aku semakin tak mengerti apa maksudmu.” aku menunduk dan tak berani menatapnya.

“Jangan cemberut begitu. Kau semakin terlihat tua,nanti. Kau mau terlihat tua sebelum waktunya?” ia mencoba menggodaku.

“tentu tidak, kau yang akan terlebih dahulu terlihat tua” jawabku sembari menjulurkan lidah terhadapnya.

“aku lebih suka melihatmu tersenyum seperti itu” ia tersenyum simpul sambil menatapku.

“berhenti menggodaku seperti itu, hari mulai gelap dan aku minta tolong jelaskan jawabanmu yang tadi. Sungguh aku tak mengerti.” jawabku sambil menantang matanya.

“oh, kau masih tak mengerti ya? Aku memahamimu lebih dari siapapun. Itu artinya, aku bagian dari dirimu. Dan apakah kau tak pernah menyadarinya, kau memahamiku lebih dari siapapun? ah.. kau wanita yang tak peka rupanya” ia berbicara seenaknya -_-‘

“dengar sayangku, aku akan mengulanginya, kau sederhana, manisku. Sesederhana perpisahan langit dan mentari kala malam akan datang. Tak semua orang menikmatinya, tak semua orang memahaminya. Sama denganmu, tak semua orang mampu memahami kesederhanaanmu.” kali ini ia berbicara sembari menatapku dan tersenyum.

Kembali ia melirik arlojinya, aku tak berani menjawab apa-apa lagi. Kami saling berdiam, kereta api kembali melintas dan kali ini anginnya terasa lebih dingin. Di barat sana, masih tersisa jingga samar-samar.

“kau masih belum mengerti, ya?” tanyanya kembali dan aku hanya mengangguk dan tertunduk.

“kau pasti akan mengerti, kau hanya butuh sedikit waktu untuk mencerna dan menerimanya. Bulan sudah bersinar di sana, mari kita pulang.” ajaknya dengan sopan dan aku hanya menganggukkan kepala.

“percayalah akan satu hal, mentari yang pergi saat senja datang akan kembali pada keesokan paginya” pesannya sebelum pergi sore itu..

***

Sore-sore berikutnya, aku tak melihatnya lagi. Ia tak pernah datang lagi ketempat ini. Aku merindukannya. Aku masih menikmati setiap senja di tempat ini, bahkan tanpa dia. Apakah ia akan kembali? Kadang pertanyaan itu muncul, saat aku benar-benar merindukannya..

“percayalah akan satu hal, mentari yang pergi saat senja datang akan kembali pada keesokan paginya” tiba-tiba aku mengingat pesannya.

Aah,, sudah berapa kali pagi, sejak sore itu. Namun, ia tak kunjung kembali…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s