Selamat Melanjutkan Hidup, Abang Terbaik :)


Apapun yang terjadi di pulau ini, akan kami tinggalkan di pulau ini. Semua cerita, semua kejadian, semua kata, semua rasa dan semuanya, kami tinggalkan disini

Abang terbaik. Tak ada yang perlu di cemburui dalam tulisan ini. Ini hanya sekedar ungkapan kekaguman dan masa lalu. šŸ™‚

Pagi itu, aku terkejut menerima pesan darinya, isinya poto. Poto undangan pernikahannya. Ya, dia akan menikah, nanti tanggal 3 oktober di Tangerang. Aku kaget, tapi tak sampai sakit seperti satu setengah tahun yang lalu. Dia.. Aku mengaguminya, hanya sebatas kagum tak ada lebihnya. Dia, memberikan kenangan manis yang termanis sepanjang ingatanku. Namanya Yulian Amin Rais. Semoga ia tak pernah menemukan dan membaca blog ini.

Kami mengenalnya dengan sapaan akrab, Bang Rais. Kami bertemu di surga, Paredise. Hahaha.. Ya, kami bertemu di Pare, nge camp di tempat yang sama Cherry Camp. Dan menghabiskan waktu yang singkat bersama. Aku tak menyimpan rasa selain rasa kagum, bahwasanya ada yang cemburu dengan kedekatan kami, dengan perhatian yang ku dapat darinya. Mungkin seseorang itu diam-diam membenciku. Karena aku mendapatkan perhatiannya tanpa meminta padanya.

Ini janji terbesar dalam hidup kami. Aku tahu, aku sudah berjanji, aku menepati janjiku. Makanya tak ada yang perlu di cemburui. Ini hanya cerita yang kutulis untuk mengenangnya. Jika suatu saat nanti, aku tak mampu lagi mengingatnya, aku tak mampu lagi mengingatmu. Disinilah ia hidup, disinilah kenangan itu hidup. Dia yang akan menceritakan kepada siapapun tentang aku. Kepada siapapun yang ingin tahu tentang aku, kepada siapapun yang ingin mengingatku. šŸ™‚
Dan untukmu sayang, jangan cemburu.. šŸ™‚

Menuju Sempu
Menuju Sempu

Malam itu, setelah kelas malam usai, kita bersiap-siap memulai perjalanan panjang hingga minggu sore. Kita akan camping di sebuah pulau, Pulau Sempu namanya. Perlengkapan untuk bertahan hidup sudah di siapkan. Pasukan sudah tidak sabar untuk memulai perjalanan. Dalam perjalanan ini kami hanya memiliki empat orang abang-abang terbaik yang akan menjaga sebelas bidadari nyasar ini. Hahaha.. Kami berangkat malam hari dan sampai di dermaga pagi harinya. Perjalanan itu di mulai, abang-abang terbaik itu membawa carrier-carrier terberat, sedangkan kami hanya membawa perlengkapan kami dan dua botol besar air mineral. Naik perahu kurang lebih lima belas menit dan perjalanan di lanjutkan dengan berjalan kaki. Aku melangkah satu demi satu tanpa suara, tanpa teriakan, aku sungguh menikmatinya. Keempat abang terbaik kami berbagi tugas, siapa yang di depan, siapa yang di tengah dan siapa yang di belakang. Tak sekalipun mereka meninggalkan salah satu dari kami. Alam mempertunjukan siapa-siapa mereka sebenarnya. Aku tetap dijalanku dengan diam, menginjak lumpur, bang Lukman terjatuh. Bang sofyan mulai menyulut rokoknya, aku menghindar. Entah mengapa di saat seperti ini aku masih sempat membenci asap rokok. Aku berjalan perlahan, mencoba berpegang pada akar-akar pohon yang menjuntai untuk menahan tubuhku, agar tidak tergelincir. Jika aku tergelincir, sungguh aku akan merepotkan mereka. Aku mencoba mengikutinya dari belakang, aku mengikuti langkahnya, tanpa suara tanpa obrolan atau tanpa teriakan “abang, tolong”. Karena aku tahu, ada saatnya aku untuk manja dan ada saatnya aku harus kuat. Mungkin dia memperhatikanku dalam diam. Lalu dia menunjukkan jalan untukku. Disaat aku tak mampu melewati batang kayu licin dan dibawahnya ada genangan air, yang tak mampu kami takar dalam atau tidaknya. Aku ragu untuk melangkahkan kakiku, ia megulurkan tangannya membantuku. Saat itu aku tak terlalu mengerti, seseorang dua orang mulai menanam rasa cemburu padaku. Aku melanjutkan perjalanan tanpa mengeluh kapan sampai. Sungguh aku menikmattinya. Seingatku, aku hanya meminta ia mencucikan sepatuku dan sepatu uni Hanifah. Aku tahu, ia melakukannnya dengan senang hati.

***

Setelah perjalanan panjang, saat debur ombak mulai terdengar, aku dan uni Hanifah yang di depan sembari menjaga Gisel yang sedari tadi menangis dan badannya mulai panas berhenti sejenak saat mendengar, bang Delvy berteriak. “Raiiiis….” dan bang Rais menjawab “Yo Del…” kemudian bergema. Dan bang Delvy menjawab, “Safrin kakinya luka… Dan ga bisa jalan..” Bang Rais berteriak “tungguu disana..” Dan ia bergegas berjalan duluan untuk menyimpan barangnya di tenda, karena kami di pandu oleh seorang pemandu yang saat tiba langsung mendirikan tenda. Saat itu aunty Neneng, nyak Nurul dan uni Mega sudah duluan sampai di tepi pulau. Aku dan uni Hanifah masih bersama Gisel yang terbaring lelah di pinggiran jalan setapak. Bang Rais bilang, “tunggu disini”. Kami menunggunya. Hingga ia balik tanpa membawa apa-apa, hanya bajunya yang basah. Pertanda ia sudah menceburkan diri di air yang sama sekali tak terbayang olehku saat itu. Ia berbalik kebelakang dan menjemput Safrin serta membawakan tasnya. Ketika bertemu denganku, ia menawarkan untuk membawakan tasku. Aku menolaknya, aku tahu ia sudah cukup berat dengan bebannya saat itu.

Melepas Lelah di Pulau Sempu
Melepas Lelah di Pulau Sempu

Hingga sampailah kami di tepi pulau, semua barang bawaan kami masukkan kedalam tenda barang-barang. Kami memiliki dua tenda saat itu. Semua orang sudah mengambil posisinya masing-masing, ada yang memasak ada yang tidur dan ada yang berendam. Aku tak perlu cemas, aku tak melanggar permintaan papa. Disini tak ada ombak yang akan menyeretku ketengah, dan membuatku hilang. Hanya ada monyet yang bergelantungan di hutan di atas tebing dan menurut mitos yang beredar, seekor anaconda yang bersembunyi entah dimana. Aku memilih duduk di tepi air dan mencucikan semua sepatu mereka di temani oleh bang Lukman, bang Delvi dan bang Sofyan. Kami melakukan obrolan ringan sembari gombalan-gombalan dangkal baru kenal. Tenang, aku takkan termakan rayuan itu. Karena saat itu rasanya cinta terlalu pahit untukku. Aku hanya ingin kita dekat dan menjadi teman yang tak terlupakan. Kami berpoto bersama, tertawa bersama, dan bang Rais memintaku untuk mencucikan sepatunya juga. Tak sulit mencuci sepatu-sepatu itu, aku tak membersihkan nodanya, aku hanya membersihkannya dari lumpur. Aku melakukannnya dengan riang dan tertawa, gembira.

Hal yang teraneh dari kami adalah kami melakukan perjalanan jauh dengan tidak membawa beras, kami membawa telur, dan di pinggir pantai kami membuat pancake ala kadarnya. Benar-benar pancake sederhana. Ketika sudah ada yang matang, umi Mel dan uni Hanifah berteriak, pancake sudah matang. Mereka mengambilnya satu persatu, kecuali aku yang tetap tinggal. Karena terlalu lelah untuk berjalan, aku membiarkannya. Pasti mereka menyisakan bagianku, begitu pikirku. Namun, yang terjadi adalah bang Rais datang dan menghampiriku. Ia bertanya apakah aku sudah memakan pancake bagianku, dan aku menjawab belum. Dia menghampiriku dan menyuapiku pancake yang di tangannya. Aku malu di teriakin “cieee” oleh teman-teman. Tapi dalam hati, aku bertanya-tanya, apa yang dia lakukan? Tak kan ada yang lebih dari hanya sekedar ini. Aku hanya tersenyum mendengar komentar teman-teman. Kemudian waktunya makan mie rebus tiba. Tumpukan sepatu yang harus aku cuci telah selesai, kita makan kemudian aku membersihkan diri dan tidur dengan nyenyak di tenda sore itu.

Makan malam di Sempu
Makan malam di Sempu

Malam mulai merangkak naik, dan kami mulai menyediakan persiapan untuk makan malam. Makan malam kami sederhana, singkong rebus, mie rebus dan jagung bakar, dan sekaleng sarden. Kami lupa bahwasanya kami tidak mempersiapkan mentega untuk menjadi bumbu jagung bakar. Ide terjitu saat itu adalah menjadikan saos sarden sebagai bumbu jagung bakar kami. Makan malam di mulai dengan memakan singkong rebus. Kami lupa membawa pisau, kami meminjamnya dari tenda tetangga. Ketika pisau itu di kembalikan mereka bertanya tentang air minum, mereka kekurang air minum sepertinya. Mereka berniat untuk menukarnya dengan ikan laut bakar. Setelah berkompromi, kami setuju untuk menukar dua botol air mineral merk Aqua dengan seekor ikan bakar. Dan merekapun setuju, ikan bakar di tukar dengan dua botol besar air mineral. Akhirnya menu kami malam itu tidak terlalu menyedihkan. Hahhhaa

Tiba saatnya membakar jagung. Aku kebagian tugas untuk mengupas kulit jagung dan memoleskan saos sarden pada permukaan jagung itu. Abang-abang itu bertugas membakarnya. Aku lupa menyisihkan jagung untukku, karena tak hentinya kita bercanda dan tertawa. Bang Rais mengingatku, apakah aku sudah mencicipi jagung bakar itu. Aku bilang belum, bang. Biar lah yang lain dulu, saat itu Gisel tak mau makan apapun, badannya bertambah panas. Ia duduk bersama kami tanpa komentar. Lagi bang Rais melakukan hal yang sama dengan tadi siang, ia menyuapiku dengan jagung bagiannya. Kemudian membakarkannya satu khusus untukku. Dan ulfi bertugas memegangi bagianku, dan jika aku tak salah ingat, malam itu bang Rais juga menyuapiku mie rebus. Aku canggung, tapi aku telah menganggap mereka berempat abang-abangku. Abang kandung atau sepupuku.

Malam bergerak dan acara kita berlanjut, permainan JUJUR ā€“ BERANI. Intinya sih malam itu kita semua harus jujur, sehingga judul permainan itu di ganti JUJUR ā€“ BUGIL. Karena takkan ada satu orang tolol dari kita yang akan memilih bugil. Aku lupa cara kita berhitung untuk menentukan siapa yang akan di tanyai, JUJUR apa BUGIL? Yang pasti malam itu, tak ubahnya jadi ajang curhat buat bang Rais tentang dirinya tentang perasaannya dan tentang keluarganya. Dan tentang kejahilannya menjebak beberapa orang dengan pertanyaan memalukan, menurutku. Misalnya, dia bertaya pada Safrin, Sudah pernah ciuman? Kapan? Dan Safrin menjawabnya dengan jujur juga detail. >_<. Juga Melati yang di tanya bang Rais, Pernah nonton Bokep? Dan lagi ia menjawab dengan jujur dan detail. Pertanyaan macam apa itu, aku mual mendengarnya. Ketika itu aku yang berada pada posisi itu, pertanyaan yang mereka berikan sangat terhormat. Dan satu pertanyaan gila yang ku jawab dengan polos, bang delvy bertanya “Jika seandainya di dunia ini, hanya ada empat orang cowok yaitu kita berempat. Kamu akan milih siapa dek?” Aku bilang, aku tak mau memilihnya. Dan bang Delvy memaksa “Jika kamu harus memilih. Kamu pilih siapa salah satu dari kita?”. Akhirnya aku menjawab, “Aku pilih bang Rais.” Dan Bang Delvy bertanya lagi, “kenapa Rais? Kita (bang Lukman, Bang Delvy, Bang Sofyan) kan nemenin dedek dari tadi?” Dan aku menjawab dengan santai,” karena dari abang-abang berempat cuma bang Rais yang ga ngegombalin dedek” dan mereka tertawa. Hahahhah

Setiap perempun di tanyain hal yang sama oleh bang delvy, kebanyakan dari mereka menjawab bang Rais. Tanpa aku sadari, ada yang berubah sikap bang Rais kebeberapa orang dari kami, tapi dia tetap sama untukku.

Malam itu, semua perempuan tidur di dalam tenda dan abang-abang terbaik itu tidur di luar beralasakan terpal tipis.

Keesokan paginya, kami berpoto sepuasnya. Dan membersihkan area perkemahan. Sebelum pulang, kami berjanji,

Di darmaga sebelum pulang meninggalkan sempu
Di darmaga sebelum pulang meninggalkan sempu

Apapun yang terjadi di pulau ini, akan kami tinggalkan di pulau ini. Semua cerita, semua kejadian, semua kata, semua rasa dan semuanya, kami tinggalkan disini.” Kami sepakat dan kami pulang dengan ceria.

Walau pada akhirnya aku tahu, bang Rais memang tidak berubah apa-apa padaku, tapi pada beberapa yang lain bang Rais berubah, tak lagi seperti sebelumnya. Dan aku tetap pada janjiku, semua kenangan manis itu, aku tinggalkan di sana. Tak ada harapan yang aku bawa pulang. Aku meninggalkannya, karena aku tahu aku harus melanjutkan hidupku dan merekapun sama. Kenangan manis yang termanis.

Selamat menempuh hidup baru abang terbaik, Yulian Amin Rais. Semoga langgeng hingga kakek nenek.. šŸ™‚

Hari Bahagia Abang Terbaik
Hari Bahagia Abang Terbaik
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s