To Kill A Mocking Bird


Karya Harper Lee

Sebenarnya buku ini saya beli dulu, 5 Maret 2011 ketika jalan-jalan bersama keluarga PSDM BEM-J kabinet Sapta Gemilang. Maklum kadep kita orangnya sedikit Fanatik kalo jalan-jalan. Jalan-jalan itu mesti ada faedah dan manfaatnya. Padahal menurut saya, jalan-jalan itu untuk menyegarkan pikiran. Kemana saja, asal senang bersama-sama, kemana saja yang penting kita tahu ada satu yang tak terganti, kebersamaan. Tapi, demi Kadep yang terhormat, akhirnya saya menurut. Jalan-jalan ke bookfair di gelora bung karno. Menikmati sedikit, tenggelam dalam buku-buku yang ramah di kantong. Tapi saat itu saya tak punya cukup uang untuk membeli semua buku yang saya inginkan. Akhirnya saya menyerah pada keadaan. Buku-bukunya bikin ngiler ngences, tapi apa daya prinsip ekonomi naluri wanita saya, lebih kuat untuk menahannya. Saya ingat, ketika itu saya hanya membeli dua buku. Salah satunya ya novel ini. Sayangnya, ketika masih kuliah saya terlalu sibuk dengan tugas ini itu, yang terkadang memaksa saya untuk tidur pukul 02:00 dini hari dan bangun paling telat pukul 06:00 untuk kembali berangkat kuliah.

Empat tahun kemudian, ketika saya sudah mulai punya waktu luang banyak untuk membaca dan sudah punya cukup uang untuk memborong empat hingga lima buku setiap bulannya. Saya melihat novel yang dulu saya beli di bookfair terpajang di bagian best seller di toko buku Gramedia tempat saya biasa membeli buku, atau hanya sekedar numpang baca gratis. Rasa penasaran saya muncul dua kali lebih besar untuk membaca novel itu. Akhirnya ketika pulang ke kosan, saya langsung membuka kardus tempat saya menyimpan buku itu, maklum baru pindah kosan, jadi semua bukunya di kardusin. >_<

***

Akhirnya, saya membaca kisah indah itu, To Kill A Mocking Bird.

Miss Jean Louise, atau di panggil Scout, adik Mister Jeremy Finch, mereka berdua merupakan anak seorang pengacara di Maycomb County, Atticus Finch, merupakan tokoh utama dalam novel itu. Ia baru berusia delapan tahun, ibunya meninggal ketika melahirkannya. Mereka berdua tumbuh besar dalam pengawasan Atticus dan seorang pengasuh mereka yang berkulit hitam namun bisa membaca dan menulis sebaik Atticus, Calpurnia namanya.

Setiap liburan musim panas mereka bermain bersama Dill, yang menginap di rumas Mrs. Rachel setiap musim panas tiba. Mereka bertiga suka memainkan drama untuk mengisi waktu luang mereka, hingga ide gila untuk membuat Boo Radley keluar dari rumahnya. Atticus mengetahui lebih baik dari siapapun, tapi ia berpura-pura tak tahu hingga suatu hari nanti mereka menyadarinya.

Kehidupan Scout dan Jem berubah, ketika terjadi suatu kasus yang harus di tangani oleh Atticus, membela seorang kulit hitam. Sepertinya cerita ini di tulis dengan latar belakang politik perbedaan warna kulit, Apharteid. Atticus, harus membela Tom Robinson, seorang berkulit hitam yang nyata memang tidak bersalah atas tuduhan seorang kulit putih Bob Ewell. Bob Ewell menuduh Tom Robinson telah memukuli dan menodai putrinya Mayela Ewell. Dengan semua kesaksian yang disampaikan di depan pengadilan, juri memutuskan bahwasanya Tom Robinson bersalah. Atticus mempertahankannya dan minta untuk naik banding. Sedangkan Tom di kembalikan ke penjara. Namun, malang nasib Tom Robinson, saat menunggu sidang pengadilan berikutnya ia mencoba melarikan diri dan di tembak hingga tewas.

Kehidupan Scout dan Jem perlahan kembali seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun Bob Ewell yang masih menyimpan dendam pada Atticus karena kejadian di pengadilan, mencoba untuk membunuh Scout dan Jem suatu malam saat mereka pulang dari sandiwara yang diadakan di auditorium sekolah. Untungnya tidak terjadi, tangan Jem patah dan Bob Ewell rebah menimpa pisaunya sendiri.

***

Aku menyukai Atticus Finch, beberapa kutipannya yang berharga dan membuka mataku, antara lain:

Kau bisa mempelajari satu keterampilan sederhana, Scout, kau bisa bergaul lebih baik dengan berbagai jenis orang. Kau baru bisa memahami seseorang kalau kau sudah memandang situasi dari sudut pandangnya“.Atticus menyampaikan ini saat Scout meminta untuk tidak masuk sekolah besok pagi, karena hari pertama sekolahnya tidak menyenangkan.

Dan Ketika Jem berulang kali marah karena ucapan nenek nenek Tua, Mrs. Dubose, Atticus berkata dengan tenang “angkatlah kepalamu dan jadilah lelaki terhormat. Apapun yang dikatakannya kepadamu, tugasmu adalah tidak membiarkan dia membuatmu marah“.

Dan pernyataan Dill, saat ia entah mengapa kabur dari rumahnya dan masuk ke kamar Scout diam-diam. Saat itu Scout bertanya,

“Dill menurutmu, mengapa Boo Radley tak pernah kabur?

Dan Dill menjawab “Mungkin dia tak punya tempat yang di tuju kalau kabur

Aku dan Boo Radley jauh berbeda, aku selalu punya tempat yang di tuju kalau kabur, entah itu pasar, gramedia, stasiun, semarang, djogja, pare, atau rumah mamaku.

Dan pemikiran Jem, “Kalau hanya ada satu jenis manusia, mengapa mereka tidak bisa rukun? Kalau mereka semua sama, mengapa mereka merepotkan diri untuk membenci?

Aku mengagumi Atticus.. 🙂

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s