Sederhana, Bukan?


Tak perlu bertanya apa-apa tentang keinginanku, tentang apa yang aku mau. Karena aku tak pernah menginginkan apa-apa. Tak meminta barang mewah, tak meminta tour yang panjang dan mahal ke luar negeri. Aku tak meminta yang lebih dari yang kau berikan. Semuanya aku cukupkan walau terkadang kurang, bahkan sangat kurang (ini bukan tentang uang). Aku harus selalu bersyukur, karena dengan bersyukur, Allah akan menambahkan nikmat-Nya. Itu pesan mama yang selalu aku ingat.

Biarkan aku menangis saat aku terasa begitu sedih dan terluka. Kau tak perlu bicara jika itu hanya pura-pura belaka. Karena airmata lebih jujur dari ucapan “aku baik-baik saja”. Lanjutkan apa yang ingin kau lakukan, tak memberi kabar, tak bertanya kabar, dan tak di sampingku. Sudahlah tak apa, aku baik-baik saja.

Pepatah lama bukan hanya sekedar untaian kata-kata tanpa makna nyata. Kau mesti ingat, “apa yang kau tanam itu yang akan kau tuai”. Aku tak mengancam, tak juga memperingatkan, aku hanya berkata-kata pada diriku sendiri, menghibur diri. Mungkin aku harus berdamai dengan diriku, kala yang aku harapkan tak menjadi kenyataan. πŸ™‚

Namun demikian, harapanku masih ku gantung di atas awan. Semua orang bisa lihat, semua orang boleh tahu. Tapi, hanya satu yang aku mau mewujudkan semua harap itu. “Menjalani sisa-sisa hari yang tak tentu bersama dengan sederhana, penuh cinta dan rasa bahagia. Perhatian dan pengertian tulus yang tanpa di minta, serta tak terlalu banyak airmata yang jatuh sia-sia”. Sederhana, bukan? πŸ™‚

Senja di Manggarai
Sederhana Bukan? πŸ™‚
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s