POJOKAN HATI: RASA dan TATA CARA


Saling menyayangi merupakan sifat dasar dan murni manusia

Hati sedang melihat – lihat jalanan kenangan sewaktu SMA, berpetualang dalam angan, lebih tepatnya mengingat masa silam. Terhenti langkah pada suatu kejadian pulang sekolah di depan SMAN 1 BASO. Ada orang ramai berkumpul di pinggiran jalan, bukan hanya anak – anak berseragam putih abu yang baru pulang sekolah, tapi ada juga warga sekitar. Ternyata ada yang kecelakaan. Korban di geletakkan di pinggiran jalan. Di biarkan tergelatak begitu saja, tak di bantu. Takut Hati melihatnya. Takut bercampur sedih. Mengapa di biarkan saja, mengapa mereka berkumpul hanya untuk memenuhi rasa penasaran namun tak punya rasa iba melihat darah yang mengalir dan erangan kesakitan. Mereka tak membantunya, memanggilkan ambulance ataupun menelpon polisi, atau bahkan langsung membawa mereka ke rumah sakit. Barangkali tertolong nyawanya, barangkali terselamatkan juga darah yang terus mengalir itu. Rumah sakit jauh dari sini, tolonglah mereka. Pertolongan itu akan sangat berarti tak hanya bagi si korban, namun bagi keluarganya. Pasti mereka akan sangat berterima kasih sekali, telah menyelamatkan hidup anaknya. Tapi yang terjadi berbeda. 😦

Hati bertanya – tanya, apakah rasa iba manusia itu sudah hilang. Tapi, Hati tak bisa melakukan apa – apa. Kemudian hari, Hati mendengarkan cerita seorang teman tentang kejadian kecelakaan juga. Hati bertanya, mengapa. Mengapa orang di negeri ini begitu tega, mati rasa tanpa rasa iba. Selama ini Hati tak mengerti, bagi Hati menolong yang kesusahan merupakan kebahagiaan. Membantu yang kesusahan, sebisanya merupakan tanda bukti peduli terhadap sesama. Dan Tuhan akan membalas setiap kebaikan dengan kebaikan yang lebih baik. Polos dan lugu, begitulah Hati.

Ketika Hati bertanya dan menyampaikan pemikirannya, temannya menjawab, orang – orang itu tak ingin terseret masuk suatu lingkaran masalah yang sebenarnya mereka tak melakukan apa – apa bahkan tak tahu apa – apa, karena mereka hanya berniat untuk menolong. Maksudnya, tanya Hati kembali. Jika ia membantu korban itu, di bawa ke rumah sakit misalnya. Masuk ke UGD, biaya nya siapa yang menanggung? Sedangkan keluarga si korban belum ada disana. Kalau tidak ada yang menjamin, apakah UGD akan menerimanya? Kecil kemungkinannya, kan.. Kemudian, datang polisi, di interogasi atau di tuduh. Lebih sulit lagi kan? Jadinya mempersulitkan diri sendiri kan? Padahal niat awalnya kita hanya membantu si korban. Hati menyimak dengan seksama, tapi qalbunya bergumam, bukankah hidup dan mati sudah di takdirkan, tapi kita juga harus berusaha mempertahankan kehidupan itu hingga batas mampu kita sebagai manusia.

Temannya terus menjelaskan, sedangkan Hati tak lagi mendengarkan karena hanyut dalam protes dalam qalbunya. Saling menolong, atau dalam PKN waktu SD di jelaskan dalam bab Tolong – menolong. Tapi ketika kehidupan terus berlanjut, itu semua tinggal materi dalam buku yang kini entah mungkin sudah jadi abu. Hanya tinggal angka yang tercetak dalam buku rapor. Saling menyayangi merupakan sifat dasar dan murni manusia, tapi apa yang terjadi saat sekarang ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s