POJOKAN HATI: MANUSIA-MANUSIA PLASTK


Namaku Hati, tumbuh besar dilingkungan penuh rekayasa. Wahai generasi cerdas, pahamkan artinya rekayasa. Rekayasa, sudah tak alami lagi. Dibuat-buat, di tambah-tambah, di kurangi takarannya. Katanya sih biar didapatkan sesuatu yang sempurna atau sesuatu yang baru, dan benar-benar baru. Jika zaman batu sejati, semua manusia menjadi pengrajin batu. Membuat perkakas dari batu, tempat makan dari batu, dan alangkah indah hasil susah payah mereka. Dan ini dapat kita temukan sisa serpihannya saat ini, walaupun terkubur di lapisan – lapisan paling bawah permukaan bumi.

Namaku Hati, tumbuh besar dilingkungan penuh rekayasa, terutama plastik. Tahukan plastik, suatu bahan sistesis yang sangat sulit di uraikan. Mungkin butuh waktu ratusan tahun lamanya untuk menguraikannya. Kembali harus aku jelaskan, akupun tak mempelajari kimia tentang dunia per-plastik-an ini. Dulu sempat belajar kimia sedikit sewaktu sekolah menengah atas, dan tidak pula fokus pada plastik. Sekarang ini, manusia-manusia berlomba menciptakan brang-barang dari plastik. Apapun dibuat dari plastik, wadah makanan, bungkus makanan, bungkus jajanan, wadah air minum, gorengan di pinggiran jalanpun di goreng menggunakan campuran plastik, biar kriuk katanya, dan yang paling keren, beraspun dibuat dari plastik. Untuk tumbuhpun manusia ini menelan plastik yang bentuknya seperti bulir-bulir padi yang memang menjadi sumber karbohidrat utama bagi manusia negeri ini. “Manusia-manusia plastik”. Hasil cipta karya tangan Tuhan, yang maha indah itu di gantinya dengan plastik-plastik jahannam yang mengakibatkan kesengsaraan dunia-akhirat kelak, penyesalan tiada akhir yang tersimpan rapi dalam hati-hati plastik dingin. Qalbu tempat menimbang rasapun kini tekontaminasi dengan zat-zat plastik yang membuatnya “masa bodoh, tak peduli”, kaku. Bahkan tentang bagian dirinya sendiri. Para pemilik hati plastik tak mengenal rasa, bukan? Saat mereka menuang formalin pada ikan-ikan mati agar awet dan memberikan keuntungan yang lebih dari biasanya, karena ikan ini akan awet lebih lama. Saat mereka memberi minum pada sapi-sapi pedaging hingga air itupun berlebih buat mereka, hanya untuk menaikkan timbangan daging sapi itu, sapi gelonggongan. Saat mereka memberi pewarna tekstil pada makanan demi membuatnya memiliki warna yang menarik. Hati – hati plastik itu, memang bukan hati. Siapa yang membutakannya? Uang dan keuntungan, aku rasa demikian. Karena hati mereka sudah terkontaminasi dengan plastik-plastik itu, membuat qalbu tertutupi matanya dan ia tak lagi mampu menimbang rasa. Kejujuran bukan lagi bagian darinya, rasa kasih dan sayang terhadap sesamapun luput darinya. Walau masih ada hati yang masih kuat dan bersih dari plastik-plastik itu, namun tertutup dan tersamarkan, karena nila setitik – rusak susu sebelanga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s