Do’a yang sama di Zaman yang Berbeda


“Doakan aku, menikah dengan orang yang aku cintai dan mencintai aku”

Mahligai indah pernikahan, siapa yang tak menginginkannya. Terlebih menikah dengan orang yang aku cintai dan mencintai aku,seperti keinginan Zainab dalam novel sastra Dibawah Lindungan Ka’bah, karya Buya Hamka. Atau tentang kisah cinta Zainudin dan Hayati, dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, masih karya Buya Hamka. Seperti di kutip dari surat Hayati untuk Zainudin, “ada satu hal yang ada pada diriku yang kau butuhkan, Zainudin. Yang takku berikan pada siapaun, termasuk Aziz.” kurang lebih seperti itu isinya. Bahwa yang sebenarnya Hayati, mencintai hanya Zainudin, namun kuasa ninik mamak atas Hayati, membuatnya terpaksa menerima pinangan dari Aziz. Menyayat hati, pilu terasa benar, bahkan sangat terasa…

Zaman beralih, musim bertukar, adat lama pusaka usang terlah berganti menyesuaikan diri dengan zaman. Ini zaman pasca perang, kemerdekaan sudah di tangan. Kebebasan memilih dan menentukan pilihan terjamin. Setidaknya setiap orang bisa menentukan jalan dan menemukan bahagianya sendiri. Membuka pikiran seluas-luasnya, tak ada lagi yang membatasi. Mencari ilmu sejauh-jauhnya, tak ada lagi yang menghalangi. Kita menikmati kebebasan ini, kita membiarkan orang lain dan semua orang merasakan kebebasan yang lama kita cita-citakan. Dan satu hal, seorang gadis, berhak menentukan dengan siapa ia akan melanjutkan hidupnya. Mendengarkan nasihat orang tua, itu perlu. Namun, paksaan yang tak kunjung henti, itu bukan suatu kebijakan. Dan yang lebih berat adalah paksaan itu bukan dari ayah dan bunda, datuak penghulu, pemuka adat.

Bukan bermaksud membantah atau tak menurut. Tapi ayah bunda pun enggan menjawab iya. Terlebih aku yang tak menginginkannya sama sekali. Berkali-kali menolak, tak cukupkah menjadi alasan untuk berhenti mencoba. Ini hati, bukan papan sasaran anak panah, yang di panah berulang – ulang kali agar tepat mengenai sasaran yang di inginkan si pemanah. Dan perhatikan, setiap anak panah yang menancap dan di cabut, ada bekas yang takkan hilang. Luka, meskipun dimaafkan akan tetap meninggalkan bekas.

Jika Zainab di jodohkan dengan Arifin dengan alasan demi menjaga harta kekayaan Ayahnya. Padahal sesungguhnya Zainab mampu mengurusnya sendiri, Ayahnya telah mengajarkan segalanya padanya. Hayati, menurut perkataan ninik mamaknya karena ia tiada lagi beribu-berbapa, yatim – piatu. Tak ada tempat mengadu dan mencurahkan isi hati. Di relakannya hati menurut ninik mamak, toh memang zaman mereka hidup adat memang sekerasa itu pula mengatur segalanya. Memang kita bangsa beradat yang menjunjung tinggi adat-istiadatnya. Dan Siti Nurbaya, merelakan dirinya, menyimpan cintanya pada Samsulbahri, demi membayar hutang Ayahnya pada Datuk Maringgih. Semua pada kenyataannya “ada udang di balik batu”.

Seratus tahun sudah, tokoh – tokoh fiksi itu hidup dalam cerita dan sastra klasik. Pemikiran penulis tentang adat-istiadat kita zaman itu, menentang, tak sesuai lagi dengan kemajuan zaman. Seratus tahun yang lalu saja, mereka menentang dan mengatakan tak sesuai lagi dengan perkembang zaman. Mengapa saat ini semua seolah kembali seperti seratus tahun yang lalu. Tapi dengan lebih halus caranya. Apakah akan selamanya, harta dan kekuasaan menjadi raja dan membutakan nurani manusia?

Usiaku baru saja dua puluh dua tahun 7 bulan. Kemarin pagi, aku mendengar kabar dari Ayahku tentang, perjodohan. Tapi, bukan Ayah atau Bunda yang melakukannya. Orang yang sama dengan sebelumnya, orang yang menjodohkan aku ketika aku baru saja menerima kata “Selamat” dari dosen penguji di kampus. Aku baru sadar, saat itu usiaku masih dua puluh tahun lebih 7 bulan. Dua tahun yang lalu. Berat langkah kaki untuk di ayunkan, terasa tak ingin tak bangun lagi, tak ingin bertemu siapapun, ingin marah, ingin nangis, ingin teriak. Terasa seperi di penjara. Tapi, ayah dan bunda meyakinkan, itu takkan terjadi. Ayah menjanjikan, aku yang akan memilih sendiri nanti. Sipapun itu, asalnya darimanapun, asal di hatinya sama ada iman dan percaya pada Tuhan yang sama, Allah SWT. Begitupun ibunda tercinta, tak ada bedanya denga Ayah. Aku percaya pada janji ayah dan bunda, dan selalu percaya. πŸ™‚

Dua tahun berlalu, Aku menikmati kehidupanku. Aku memilih kebahagiaanku. Aku sangka, semua itu sudah selesai dan berakhir, aku sudah lepas dan bebas. Tapi, ternyata benar, air beriak tanda tak dalam, artinya air yang tenang pertanda dalam. Dan didalam ketenangan yang dalam itu banyak yang tak terlihat, mungkin bisa tiba-tiba muncul kepermukaan dan menerkamkan taringnya. Aku terluka, lagi.

Ayah mengabarkan kembali, seseorang. Seseorang………. Aku tak ingin melanjutkannya. Tak lelahkah membebani hati saya. Tak lelahkah memenjarakan hati saya. Bahkan saya tak tahu, apa salah saya. Mengapa saya? Sepupu yang lebih tua umurnya ada, bahkan belum menikah pula. Mengapa saya? Alasan – alasan tak masuk akal itu, saya tak ingin mendengar dan mengetahuinya. “Diantara sepupu – sepupu yang dua lagi, kamu yang paling manis”. Samakah halnya aku dengan binatang peliharaan yang di jajakan di pinggiran jalan, yang di rawat dan di manjakan. Ketika ada pembeli yang datang dan melihat-lihat, di tawarkan, “yang ini tuan, bulu nya lebat dan halus. Mungil dan manis rupanya. Baik dan manja tingkahnya”.

Wahai, apa salahku? Bukankah yang miliki hati dan rasa itu aku. Aku yang rasa dimana aku bahagia, dengan siapa aku bisa tertawa lepas dan merasa berbahagia. Bukankah hal sulit dan pahit bisa jadi terasa manis jika kita lewati semua itu dengan cinta dan bersama orang yang kita cinta. Dan cinta akan tetap jadi cinta dan selalu akan merasa cinta, walau disakiti berulangkali. Dan aku percaya itu..

Alangkah berat menjadi Hayati, menyimpan cinta yang sesungguhnya cinta jauh di lubuk hati. Memenuhi segala kewajiban istri sebagai istri Aziz, hanya sekedar melepaskan tanggung jawab atas kewajibannya, agar tertunaikan kewajiban itu, hingga tak berdosa pada Aziz. Hanya sekedar menunaikan kewajiban, agar terlepas, tapi bukan dari hati yang terdalamnya. Dan aku mengerti betapa tersiksanya hati dan perasaan akan hal yang sedemikian itu.

Pada akhirnya, Siti Nurbaya, Hayati dan Zainab meninggal karena cinta yang disimpannya dalam – dalam. Cinta yang mereka bawa hingga mati. Mereka tokoh fiksi, buatan manusia, wadah menuangkan inspirasi dan kritik. Dan aku, tak bisa menuliskan dan menentukan jalan kisah hidupku sendiri, karena kehidupanku nyata. Pada akhirnya doaku sama dengan permintaan Zainab pada Hamid: “Doakan aku, menikah dengan orang yang aku cintai dan mencintai aku”.

balon

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s