Pojokan Hati: SURAT DARI ZAMAN BATU


Selamat malam langit kelam, perkenalkan namaku Hati, tapi hampir semua orang menyebut namaku Ati. Aku tak tahu, kenapa huruf H diawal namaku tak di anggap keberadaannya. Sehingga berbeda makna dan doa, akan namaku itu. Tapi, aku tak bisa berbuat apa-apa. Setiap kali aku berteriak, protes pada mereka yang salah mengucapkan namaku. Setiap kali pula aku di tampar kenyataan, bahwa mereka tak berbeda menyebutnya, Hati dan Ati. Hingga akhirnya, aku hanya melakukan protes di dalam qalbu, berdoa agar suatu hari nanti, mereka memanggilku dengan namaku yang sejati, Hati.

Seperti telah aku ceritakan sebelumya, mereka memanggilku Ati. Tapi aku akan selalu menuliskan namaku dengan benar, Hati. Ya, kau harus memanggilku Hati. Perkenalkan kembali, namaku Hati. Aku hidup di zaman batu. Kenapa berhenti membaca tulisanku? Apakah ini suatu hal yang menakjubkan, seorang manusia yang hidup di zaman batu menulis sebuah surat? Dan dikirimkan ke masa depan? Merasa tak mungkin dan tak percaya? Ya, itu memang tidak akan terjadi. Baiklah akan kuterangkan, makna tulisanku ini.

Namaku Hati dan aku hidup di zaman batu, batu mulia. Zaman dimana batu mulia mendadak naik daun dan menjadi sangat terkenal. Sangat banyak yang menggemarinya, banyak yang mencarinya dan banyak yang menginginkan untuk memiliki dan mengoleksi setiap jenisnya. Terasa sangat bangga ketika memiliki batu yang amat terkenal dengan harga yang terkadang tak konsisten. Bisa sangat murah dan bisa sangat mahal, tak tahu dari sebelah mana sisi penilaiannya. Miris, itu yang tergores dalam benakku. Aku bukanlah seorang ahli dalam hal ini, belajar geografi aku pernah sedikit ketika kelas satu sekolah menengah atas, tapi tak ada yang membahas kriteria batu mulia. Akupun tak pernah mendalami materi tentang bebatuan atau lapisan-lapisan bumi. Aku hanya membacanya dari postingan seorang teman tentang batu mulia, memang dia seorang yang mendalami ilmu geografi. Ia menerangkan dan menjelaskan sedikit pengetahuannya tentang batu mulia dari segi keilmuan, ilmiah dan nyata. “Menurut observasi saya selama beberapa bulan, saya pikir tidak ada yang namanya batu-batu unik yang bisa dibuat akik. Saya bahkan sudah menekankan beberapa kali. Akhir-akhir ini batu akik jadi trending topik didaerah ini karena “memang” disepanjang sungai banyak ditemukan batu warna warni dan agak transparan tembus dipancari cahaya. Saya tetap yakin bahwa batu-batu ini tidak bisa dibuat batu akik. Alasannya, setelah dicek secara fisik dugaan kuat jenisnya itu batu yang masuk kategori mineral carbonat (kalsit) karena sebagian besar daerahnya wily karst/kapur karena pengangkatan dasar laut jutaan tahun lalu. Kekerasannya pun gak sampe 5 kalo pake skala Mohs alias rentan pecah. Sepemahaman saya kalo batu akik itu dibuat itu minimal kekerasannya sekitar 7 keatas seperti batu-batu di kalimantan dan mineralnya itu bukan karbonat, tapi silikat seperti macam kuarsa dan mineral lain yang lebih keras. Hati-hati aja wes, pintar-pintar memilih kalo memang penggemar batu akik. ckckck ” demikian tulis teman saya di salah satu akun media sosialnya, ketika ia berada di nusa tenggara (S.A.V)
Pemikiranku mulai berkelana kembali, mencari sesuatu yang membuatku kesal sendiri. Masyarakat yang hidup di zamanku ini, sebagian besar pasti tak mengerti akan teori ini, teori memilih sesuai keilmuan. Bagi mereka, apabila batu itu ketika di pancarkan cahaya akan tembus cahaya, itu adalah batu yang bagus, dan mungkin akan mahal harganya. Seketika melompat satu kata dalam otakku, “pembodohan”. Ya, pembodohan yang dilakukan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, seperti yang disebut demokrasi,kan. Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Memang masyarakat zaman batu ini mendukung tinggi demokrasi, tak peduli itu sisi positif, negatif ataupun abu-abu tak tentu, yang penting demokrasi, bebas dan merdeka. Seperti katak dalam tempurung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s