Menemukan Jiwa Yang Hilang


Kembali ke masa sebelumnya, diam dengan tumpukan buku dan pensil beserta penghapus. Karena saya kurang suka menulis dengan pena, pena dawat ataupun pulpen. Kembali semangat menuliskan apapun, seperti menemukan kembali jiwa yag telah hilang. Tetap dengan deadline buku yang harus di baca demi mewujudkan satu cita-cita, memiliki perpustakaan yang semua bukunya sudah saya baca. 😉

Kemarin baru saja selesai membaca buku karya Idrus, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Ada satu kutipan yang saya suka, “seorang penulis tak perlu memikirkan seberapa banyak buku karangannya akan di cetak. Yang harus dilakukannya hanyalah terus menulis dan terus menulis, mengeluarkan semua perasaan dan fantasi bagi cerita fiksi, mencurahkan apa yang menjadi perdebatan dalam hati dengan segala yang terjadi. Tulis dan rangkai semua inspirasi. Menulis sampai mati”

Kurang lebih makna kutipan yang saya baca seperti itu. Meski akan terlihat gila dan sering diam sendirian. Ini pilihan, ini jiwa dimana saya merasa tenang dan tak perlu berkeluh kesah dengan orang lain. seperti sedia kala, serasa saya kehilangan siapa saya. ckckckkckcck ….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s