Membangun Rumah


Membangun cinta itu seperti membangun rumah.

Memang dulu aku masih kecil ketika mama dan papa memutuskan untuk membangun rumah kami. Tapi, aku masih ingat, dulu kami sering pergi ke hutan untuk membersihkan lahan yang nantinya akan menjadi rumah kami. Aku suka bermain-main di hutan, duduk di pohon tumbang, berlari-lari di tengah ilalang, tergores tajamnya rerumputan bahkan menghirup aroma asap sisa pembakaran dedaunan yang masih hijau. Hitam di wajah, hitam di kuku tangan, dikaki semuanya adalah gambaran kebahagiaan kami. Setelah perjuangan panjang mama dan papa, akhirnya kami punya rumah mungil dari kayu, hanya tiga ruang. Satu ruang tamu satu kamar tidur dan satu ruangan untuk dapur. Rumah mungil kami memiliki tujuh jendela, dua jendela di depan mendampingi pintu masuk utama. Satu jendela di sebelah samping ruang tamu, satu jendela di dapur dan tiga jendela di kamar tidur – dua jendela berdampingan di sebelah depan dan yang satunya berhadapan dengan pintu masuk ke kamar tidur. Ya, rumah kami mungil dan sederhana. Di kelilingi oleh pohon mangga di setiap sudut rumah, sebatang pohon jambu di pekarangan rumah sebelah depan, kurang lebih empat batang pohon coklat, pohon kelapa di sebelah belakang da pohon rambutan di sebelah samping. Dan juga di semarakkan dengan bunga-bungaan yang di tanam mama. Rumah kami sederhana, dan aku tumbuh tetap menjadi yang sederhana dan selalu sederhana, InsyaAllah.

Seiring berjalannya waktu, aku mengerti alasan mama dan papa membangun rumah mungil ini terlebih dahulu, yaitu agar kami tidak terus menerus hidup menyewa di rumah orang lain. Tujuan membangun rumah adalah agar terhindar dari rasa dingin angin malam, tempat berteduh dari terik sinar matahari, menciptakan rasa aman akan gangguan dan ancaman dari luar, dan tempat merebahkan lelah dan berbagi kehangatan serta kasih sayang. Ketenangan, kenyamanan, keteduhan, kehangatan, dan kebahagian.

Waktu berlalu, buah hati mama dan papa ini terus tumbuh dan menjelang dewasa, dan kebetulan tabungan mama dan papa sudah cukup. Dirombaklah rumah kecil penuh kenangan itu menjadi sesuatu yang lain, tetap kami sebut itu rumah. Rumah kami, tempat kami berbagi dan tempat dimana bahagia itu adalah milik kami. Dan tetap sederhana. Sedihnya, pepohonan itu hampir tak ada lagi. πŸ˜₯ Dan bunga-bungaan yang dulu pun sudah banyak yang mati dan di ganti dengan bunga lain. Dan yang paling menyedihkan lagi, kucing kesayangan yang aku beri nama Manis – anaknya si Kabu, kucing betina belang tiga (hitam, putih, kuning, tapi dominan warna putih) yang induknya aku panggil Kitty – mati waktu aku SMA. Sejak itu, aku tak lagi pernah punya kucing, dan rasa sayang ke kucing tak ada sesayang aku ke Manis, kucing oranye – putih itu. Kan jadi kangen, pengen peluk ama elus-elus si Manis πŸ˜₯

Manis, aku sangat-sangat menyayangi kucing ini, sejak lahir ia sudah menemani hari-hari aku, itu ketika aku kelas 3 SD hingga aku kelas 3 SMA. Kami seperti ada ikatan batin, semasa SMA aku sekolah di tempat nenek, jarang di rumah. Tetapi, ketika aku pulang ke rumah, pasti Manis juga pulang, jika bulunya kotor penuh debu, aku hanya harus mengatakan “bersihkan dulu bulunya sana baru ketemu aku”. Dia akan pergi, menghilang sebentar dan kembali dengan bulu yang sudah bersih. Dan aku menepati janjiku, aku mengelusnya, memeluknya ke pangkuanku. Tempat favoritnya. Dan Manis-ku akan sabar menunggu aku selesai makan, untuk di beri makan. πŸ™‚ aku benar-benar merindukan kucing ituu.. T_T

oke tulisannya jadi ngaco, kembali lagi ke membangun rumah. -_-‘

Membangun cinta itu sama seperti membangun rumah, tujuannya sama dan aku rasa prosesnya mirip 90%. Ini tulisan tak ada fakta ilmiahnya, hanya sekedar hasil pemikiran gadis belia yang menjelang dewasa ini. Tapi, telitilah. Tujuan membangun rumah untuk apa? Tujuan seseoang membangun rumah adalah untuk menemukan tempat yang nyaman, tempat yang tenang, tempat berlindung, tempat istirahat, dan dapat disimpulkan dengan bahasa yang lebih tepat mungkin untuk

memiliki. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana membangun rumah? Untuk membangun rumah kita harus berusaha, menabung, membuat design rumah yang kita inginkan, memilih dan membeli perlengkapan untuk pembangunan, dan yang paling penting sabar menunggu hingga rumahnya selesai di bangun. Nah, sekarang rumahnya sudah selesai di bangun, lalu apa lagi? Pindahan dan menata semua ruangan, kemudian melengkapi hal-hal yang kurang. Oke semuanya sudah, Jangan lupa pekarangan yang indah itu jika di rawat dan di tanami bunga. Sudah juga? Lalu apa lagi? Mungkin ini yang terakhir dari segala proses panjang ini, menjaga apa yang kita sudah miliki. Ini bagian paling sulit, mungkin. Tapi paling indah, semoga. Menyempurnakan yang kurang. Jika ada kayu yang lapuk, perbaikilah. Ganti dengan kayu yang baru misalnya. Apakah hanya karena tiang-tiang kayu lapuk, kita akan meninggalkan rumha yang kita bangun penuh perjuangan itu? Apakah hanya karena ubin yang retak, kita harus bergegas mencari rumah baru? Perbaikilah apa yang bisa di perbaiki. Percantiklah bagian yang kurang cantik.

Jadi, hingga kata semoga dan di akhiri dengan tanda titik, sudah di mengertikah maksud tulisan singkat ini.

Ketika kita mencoba untuk membangun cinta, kita harus berusaha mendesign, mewujudkan dan menjaganya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s