Menunggu Kereta


Orang orang ini lalu lalang, ingin segera pulang saat mentari sore perlahan merambat menjelang petang. Menyisakan siluet merah lembayung di ufuk sana. Wajah mereka lelah penuh harap, membayangkan senyuman yang menyambut mereka pulang.  Terasa asing di tengah keramaian, diam bersandar pada bayang-bayang, bercerita pada ketiadaan. Sendirian.
Riuh suara mesin terdengar dari kejauhan, menghampiri kerumunan orang-orang. Berdiri berharap-harap cemas di peron dua, mengumpulkan tenaga untuk mendorong orang-orang lainnya hingga cukup untuk berdiri di salah satu gerbong kereta.

Segera pulang, aku juga menginginkannya. Segera pulang? Aku menginginkannya? Apa yang aku inginkan? Pulang?  Untuk apa, untuk bertemu siapa? Aku belum punya jawabannya, siapa yang hendak aku temui di rumah, siapa yang menunggu?  Adakah yang menunggu, atau adakah rumah yang aku tuju,  mungkin itu pertanyaan yang lebih tepatnya. Bergelut dengan perasaan sendiri, berargument dengan logika yang hati tak mampu menerima. Sebenarnya, aku tak sedang memikirkan apa-apa. Memikirkan yang menunggu, memikirkan rumah, memikirkan siapa yang akan tersenyum manis saat aku ketuk pintu dan ucapkan salam. Atau siapakah yang akan melambaikan tangan sembari tersenyum menyambut ku pulang. Ya, aku tak sedang memikirkan apa-apa. Hanya teringat, adakah seseorang yang akan aku sebut rumah, tempat segalanya akan berlabuh, ruang segalanya akan bersandar, hingga tak ada lagi ketakutan dan airmata, takut ditinggal misalnya.

Hidup itu seperti menunggu kereta pada saat jam pulang kerja. Harus berjuang, ikhlas dan rela hati. Berjuang meski hanya demi sedikit ruang sempit untuk berdiri, asalkan cepat sampai di tempat yang di tuju. Penuh sesak tidak jadi masalah, asalkan menikmati perjalanan dengan ikhlas dan rela sakit badan ketika sampai pada tujuan. Ikhlas menunggu sedikit lebih lama, memberi orang-orang yang mengaku terburu-buru berangkat lebih dulu.  Walaupun semakin lama menunggu, penumpang baru terus berdatangan. Tetap ikhlas walau kembali di dahului oleh mereka yang ingin berjuang untuk cepat sampai. Mereka yang ikhlas menunggu akan mengisi waktu tunggu dengan kegiatan bermanfaat demi membunuh waktu, membaca, ngobrol hingga berdzikir. Oleh karena setiap keikhlasan akan berbuah manis pada akhirnya. Rela hati menunggu kereta yang lebih sepi, walau harus menunggu sampai malam merangkak naik dan hawa dingin mulai terasa. Mengikhlaskan kereta demi kereta berlalu begitu saja, bahkan mungkin melewatkan kesempatan. Demi mendapatkan kenyamanan dalam perjalanan, mungkin karena terlalu lelah bekerja seharian dan lupa bahwa besok pagi harus kembali berjuang.

Berjuang, Ikhlas dan Rela Hati, sejalan-seiring, semoga kita diberikan  yang terbaik dalam menjalani hidup.

Menunggu Kereta Datang
Menunggu Kereta Datang
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s