Airmata Pertama


Ini bukan diary, hanya sebatas coretan hidup yang ga penting bagi orang lain, namun berupa catatan-catatan penting bagi saya. Sebut saja saat ini saya tengah mengumpulkan lembaran demi lembaran autobiografi yang mungkin akan dibaca oleh orang-orang yang masih mengingat saya kelak di saat saya sudah tak bisa bersama mereka lagi. Ini merupakan salah satu cara saya untuk di ingat oleh mereka.

Kamis, 18 Juni 2015, merupakan Ramadhan kelima saya di kota hujan. Tak ada yang berbeda semuanya masih sama. Rutinitas yang sok sibuk dan kejamnya udara ibukota tahun ini akan menemani saya sepanjang Ramadhan 1436 ini. Jika di renungkan, terlalu banyak kejadian-kejadian unik dan menarik hari ini.

Kejadian hari ini, mengingatkan saya pada pesan seseorang, ia mengatakan bahwa saya tak sendirian. Banyak yang sayang dengan saya, jangan bersedih jangan menangis. Akhir hari ini, menjelang adzan maghrib berkumandang terasa semakin berat. Ada gumpalan yang menghadang, menuntut di cairkan di pelupuk mata. Ada rasa sesak di dada kala menatap langit dan burung-burung melayang pulang menuju sarang. Langit sore itu merah dan sedikit gelap, aku kira hujan hendak mendahaluiku. Namun ternyata, hujan turun disini, di mataku.

Ramadhan with Cemong
Buka bersama Cemong

Stasiun Bogor, senja itu. Kutapaki dengan bulir-bulir yang jatuh satu demi satu. Kemana langkah akan kutuju, tak ada yang menungguku di sana dengan senyum. “Ma, aku ingin pulang dan berbuka bersama”, bisikku dalam doa menjelang berbuka. Aku memilih untuk tidak pulang, aku duduk di salah satu sudut stasiun meminum sebotol air dan membuka sekaleng susu untuk si mungil yang sudah terlihat lapar menungguku. Cemong, ku beri nama begitu karena ada rambut berwarna hitam di wajahnya. Ia hidup damai di stasiun itu. Aku menghabiskan sekaleng susu dengannya setiap hari. Dan untuk hari inipun begitu.

Tiba-tiba kami kedatangan kucing berwarna abu-abu terang, meski aku tak tahu itu warna apa sebenarnya. Kucing itu kurus tak terurus dan karena hidungnya yang pesek melebihi cemong, aku akan memanggilnya pesyek. Aku membagi sekaleng susu aku dan cemong kepadanya. Awalnya dia malu-malu dan kemudian melahap habis susu yang kutuangkan, sepertinya ia masih ingin susunya. Tapi ia tak bersuara untuk memintanya lagi, akhirnya aku tuangkan susu itu padanya. Dan cemong diam karena cemburu di sudut satunya. Dan akupun menuangkan susu itu untuk cemong juga, agar tenang hatinya. Kemudian, seketika kereta diesel sukabumi lewat dengan suaranya yang khas, cemong dan pesyek kaget dan mereka berlari menjauh. Cemong berlari menuju dinding yang mengarah ke gate, sedangkan pesyek tak tahu kemana. Aku tertawa geli melihat tingkah kedua kucing lucu itu.

Akhirnya aku pulang, meskipun belum lapar, aku harus membeli makan dan makan malam. Duhai alangkah sedihnya hati. Jalanan begitu sepi, hampir menyerah aku akan pilihan ini. Mama aku ingin pulang dan tak kembali lagi. Lagi-lagi aku harus mengangkat wajah menatap langit agar tak ada bulir yang sempat menetes lagi. Saat melintas di depan pedagang sate, aku mendengar ia berdendang “begini nasiib, jadi bujangan…” aku tersenyum simpul mendengarnya, dan ia kebetulan melihatnya dan tertawa sembari menyapa, “kenapa ketawa, mbak” ucapnya padaku. Aku hanya berlalu sambil tersenyum.

Aku tak pernah benar-benar sendiri. Ada Kau yang selalu ada, dan menghiburku dalam susah hatiku dengan cara terbaik-Mu. Hanya pada-Mu aku mengadu dan berserah diri. Jaga aku selalu dalam cinta kepada-Mu. Amiin ~ ~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s