Cuplikan: Burung Burung Manyar


Karya: Y.B Mangunwijaya

Tanah air ada disana, dimana ada cinta dan kedekatan hati, dimana tidak ada manusia menginjak manusia lain

Tlah aku berikan segalanya, tapi mereka mengingkari janji…“. Akhirnya aku menemukan mami, bahagia namun pahitnya kenyataan getir mengguncang jiwa serdaduku. Aku, setadewa, serdadu KNIL putra dari Kapitein Braja Basuki. Mamiku di temukan Mayoor Vebruggen di rumah sakit di Magelang. Dokter tua Janakatamsi di rumah sakit itu mengatakan tak mampu melakukan apa-apa lagi untuk mami. Mamiku tidak gila, mami masih sama. Senyumnya, tatapan matanya yang teduh. “Mami, ini aku, teto.” Mami tidak menjawab, lagi-lagi yang keluar dari mulut mami kata-kata yang sama,”Tlah aku berikan segalanya, tapi mereka mengingkari janji…“. Aku putus asa, tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk menemukan papi. Papiku, Kapitein Braja Basuki, tertangkap memata-matai Jepang melalui radio yang kupasang di loteng seorang petinggi jepang, Mayoor kanagashe. Sejak hari itu, aku tak pernah dan tak akan pernah lagi melihat papi, walau apapun yang kuusahakan. Harapan, itu yang kini sudah takku punya, semuanya sia-sia. Seketika aku seperti orang yang paling kehilangan, mami dan papiku. Aku lupa disini ada Mayoor Vebruggen, yang masih tetap mencintai mami. Meski aku tak tahu persis perasaannya, tapi hingga saat ini cinta untuk mami masih terlukis dimatanya. Ia suka bersenang-senang dengan perempuan, tapi untuk beristri sepertinya ia enggan. Mungkin hanya mami wanita yang ia cintai, walaupun wanita ini telah mematahkan hatinya, menikah dengan papiku yang berkulit sawo matang dan tak segagah dirinya.

Ingatanku terbang kepada Larasati, Atik-ku, yang belakangan aku ketahui ia bekerja sebagai sekretaris salah seorang ‘orang bodoh‘ yang mengganggap diri mereka pahlawan kemerdekaan, yang entah bagaimana di mataku terlihat mendukung Jepang. Aku benci apapun tentang Jepang, mereka yang mengambil papi dari kehidupanku, mereka yang menjadikan mamiku gundik dengan iming-iming tak akan membunuh papi. Mami benar, karena cintanya mami pada papi, mami.. ya, mami telah memberikan segalanya, tapi mereka mengingkari janji. Oh.. Mamiku yang malang, dan aku teto serdadu KNIL yang tak mampu berbuat apa-apa. Entah apa yang dipikirkan Atik tentangku, aku yang membela orang lain bukan bangsaku, sedangkan gadis cerdas itu sangat mencintai tanah airnya dan memimpikan kemerdekaan yang tak lama lagi. Bagiku, kehidupan akan lebih baik jika Belanda kembali berkuasa di tanah ini, seperti dulu. Terlambat ku ketahui, Atik juga merasakan penderitaanku kehilangan papi. Ayah Atik, Pak Antana, juga telah berpulang terbakar dalam jeep nya saat hendak pergi bersama Atik. Atik selamat namun pak Antana, pulang menghadap-Nya.

Skenario Tuhan, akhirnya peperangan selesai. Akhirnya semuanya selesai, tentara kerajaan Belanda, KNIL dan Jepang harus angkat kaki dari negara yang sudah merdeka ini. Dan aku, teto, memilih untuk menghilang, mengaburkan segala tanda-tanda keberadaan dan kehidupan tentangku. Tapi, aku masih mengirimkan uang kepada dokter tua Janakatamsi untuk keperluan wanita yang paling aku cintai, mamiku. Dan dokter tua itu berjanji tidak akan mengungkap kepada seorangpun tentangku. Terbuktilah janji dokter itu. Mungkin, Atik-ku mengira aku telah tiada. Tewas dalam peperangan yang entah dimana. Aku melarikan diri, dari bayang-bayang masa lalu, dari bayang-bayang… Atik.

Akhirnya aku kembali ke tanah air, tanah air? Aku rasa aku tak punya tanah air, teringat percakapan singkat dengan seorang serdadu muda ketika aku menunggu Mayoor Vebruggen, “Tanah air ada disana, dimana ada cinta dan kedekatan hati, dimana tidak ada manusia menginjak manusia lain“. Aku lebih senang mendengarnya, aku berkunjung ke Indonesia, sebagai seorang manager perusahaan komputer ternama. Aku mendapatkan jabatan itu dengan menikahi seorang putri direktur perusahaan itu. Aku menikahinya tanpa cinta, hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan ambisiku. Akhirnya kami bercerai dengan seorang anak yang aku tak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Aku teringat Atik, apakah Atik sudah menikah dan mempunyai anak. Bagaimana keadaan bu Antana. Akhirnya, pertanyaan-pertanyaan itu menemukan jalan untuk mendapatkan jawabannya. Aku di undang hadir dalam sidang pertanggung jawaban untuk memperoleh gelar Doktor, Nyonya Janakatamsi. Aku tak mengira itulah dia, Larasati, Atikku. Aku temui kenyataan itu dalam pandangan kagum dan menyedihkan. Atikku kini milik orang lain. Salahku. Aku yang hilang tanpa tanda-tanda kehidupan, mungkin menyebabkan Atik lelah menunggu. Hingga ia memilih menikah dengan yang ada saja, tanpa cinta. Sepertiku. Atau atik benar-benar mencintai lelaki itu? Aku patah hati. Seandainya peperangan itu tak terjadi, aku takkan kehilangan papi, mami, dan kini aku kehilangan Atik. Aku segera pulang ke penginapanku. Aku tak ingin bertemu dengan Atik, menatap matanya. Aku tak ingin. Tapi, keluarga itu datang mengunjungi penginapan dan mencari ku. Aku bingung, haruskah aku keluar dan menemui Atik. Rindu itu mengguncang jiwaku, jiwa serdadu yang masih tegap di dalam jiwaku. Jika aku menemuinya, apa yang harus aku lakukan. Entah apa yang aku pikirkan, aku memilih keluar dari pintu samping. Ketika melihatku, Atik langsung berlari memelukku, ia memelukku di depan suaminya. Aku begitu canggung, dan lelaki itu memberi tanda tidak apa, Atik sangat merindukanku, itu yang lelaki itu tahu.

Untuk beberapa hari aku tinggal di rumah bu Antana sekalian melepas rindu yang salah ini. Atik sudah memiliki tiga orang anak. Tetapi setiap kali aku melihatnya, ia terlihat sepuluh tahun lebih muda. Tak lama aku tinggal di rumah itu, ketika Dik Jana menyampaikan permintaan terakhir ayahnya, agar ia pergi haji. Setelah bermufakat dengan Atik, mereka pergi berdua menunaikan permintaan terakhir sang ayah. Namun pagi ini, saat aku mendengarkan berita di radio. Berita yang ku dengar seperti melumpuhkan kakiku, kosong dan hampa. Kapal udara yang di tumpangi Atik dan suaminya mengalami kecelakaan menabrak sebuah bukit di India, tak ada penumpang yang selamat. Kini, aku benar-benar kehilangan semuanya, papi, mami dan Atik-ku. Kini ketiga anak Atik, aku yang merawatnya sendiri. Meski aku tahu, mereka butuh seorang Ibu. Tapi cintaku untuk Atik, takkan ku bagi lagi.

***

Akhirnya cuplikan ini selesai, cuplikan yang saya ceritakan kembali dengan mencoba belajar bercerita seperti penulisnya. Saya baca kembali tulisan ini, ternyata saya belum bisa mengikuti cara Kakek Y.B Mangunwijaya bercerita. Bahasanya sederhana, tapi sulit saya ikuti alurnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s