Menunggu atau Menemukan (Labyrinth)


salah satu dari banyak pilihan dalam hidup ini, yaitu menunggu atau menemukan

Satu hal yang menggelitik hati, pernahkan kau memikirkannya. Apapun yang terjadi di dunia ini, hal sekecil biji bayampun bisa mengajarkanmu sesuatu jika kau memikirkannya dengan dalam. Hanya saja kita manusia, sebagian besar, terlalu malas untuk memikirkan hikmah dari setiap kejadian dan memetik pelajaran dari apa yang di lewati. Inginnya hanya akan cepat dapat saja, ketimbang menikmati proses untuk mendapati sesuatu itu. Inginnya hanya cepat sampai, tanpa menikmati pemandangan yang terhampar selama perjalanan. Inginnya hanya akan cepat selesai, untuk mendapatkan sesuatu yang lain yang lebih dari sebelumnya.

Tak pernah terpikir sebelumnya, ada satu jalan cerita dalam hidup ini layaknya bermain di taman rahasia, labyrinth, dengan satu gardu pandang tempat mengamati setiap liku taman itu. Mungkin ada satu dua orang yang mengamati dan mengetahui jalan mana yang semestinya di tempuh, namun ia tak diizinkan untuk memberi tahu yang sedang “mencari jalan” di taman itu, untuk saling menemukan. Biarkan saja mereka itu menemukan jalannya, mencapai tempat perjanjian, tempat untuk saling bertemu yang telah di tentukan. Tempat yang di tentukan Tuhan untuk saling menemukan.

Seperti halnya sore itu, kala matahari sebentar lagi akan pulang ke peraduan. Jingga langit senja mulai melukiskan keberadaannya, anginpun bertiup sedang, seolah menjaga kehangatan jiwa-jiwa yang masih ingin menikmati suasana senja. Dua orang melangkah masuk ke taman itu, berjanji untuk bertemu di satu tempat di sebelah barat sana. Setelah mereka sepakat, seorang memilih jalan kanan dan yang seorang memilih jalan kiri. Mereka berjalan sendiri-sendiri. Sendiri-sendiri, apapun yang akan terjadi, apapun halangan yang menanti, mereka akan mengahadapinya, sendiri. Dan pasti datang untuk menepat janji. Terpekur dalam langkah masing-masing, menempuh jalan yang sama sekali mereka tak tahu. Tersesat, itu mungkin saja bisa terjadi. Kemudian, ia harus menemukan jalan yang benar dan tepat. Jalan buntu, adalah pilihan lain dari tersesat. Ketika jalan itu berakhir dengan tanaman taman, dan tak ada pilihan lain selain mengikuti jalan kearah sebaliknya. Menuju belokan sebelumnya, dan memilih simpang jalan yang lain. Menerobos tanaman, merupakan pilihan paling tidak adil. Merusak tatanan takdir dan sungguh picik pemikiran serupa itu. Bahwasanya untuk mencapai tujuan dengan bahagia, patuhlah pada alurnya. Agar tidaklah menimbulkan penyesalan dan sempurnalah rasa puas dan bahagia itu kelak.

Pilihan sudah di tetapkan. Ini adalah awal dari perjalanan pencarian. Mencari jalan untuk menemukan atau menunggu. Ya, menemukan yang telah menunggu. Kaki dilangkah satu demi satu menelusuri labyrinth, pikiran melayang pada satu tujuan. Disebelah sana, ya di sebelah sana. Terlihat, tapi bagaimana mencapainya tanpa harus tersesat terlalu lama. Diam, sepi, hanya suara langkah yang terdengar. Terhanyut sebentar dalam lamunan, datang untuk menepati janji. Janji yang tadi telah di buat dan di sepakati. Layaknya takdir manusia, yang telah dituliskan di lauh mahfuz. Hakikatnya hati paling murni, memahami perjanjian itu. Tahu apa-apa yang telah di gariskan, tahu siapa yang telah di takdirkan. Namun, hati tak begitu saja menyebutkan dan mengabarkan. Ia hanya memberi tanda-tanda, kode rahasia yang akan kau dapati jawabnya didalam doa kepada-Nya. Semakin jauh langkah membawa, semakin jauh angan melayang. Terkadang diruang taman yang sedikit lebar dan sadar tengah sendirian, ada rasa takut yang menyergap. Ingin segera berlari. Menentukan pilihan kala ada persimpangan, menimbang langkah agar tidak tersesat atau salah pilih. Berhenti, itu bukan pilhan yang bijaksana. Berbalik kebelakang sudah jauh kaki berjalan, seolah tak menghargai perjuangan sendiri. Jika keraguan mucul secara tiba-tiba. Tenanglah, ikuti jalan yang di pilihkan hati. Biarkan kaki melangkah, pelan-pelan di tuntun oleh hati dan percayalah, kau akan sampai pada hati yang kau tuju.

Disana, ia telah menunggu. “Kau terlalu jauh berjalan”, ucapnya. “Aku memperhatikanmu sedari tadi”, sembari tersenyum.

Hari ini saya belajar, satu pernyataan yang tak sengaja terpikirkan, “salah satu dari banyak pilihan dalam hidup ini, yaitu menunggu atau menemukan”. Menunggu atau menemukan, keduanya adalah pemeran utama. Bisa menjadi bintang utama yang akan menunggu, dan bisa juga berperan sebagai bintang utama yang akan menemukan. Dan keduanya ini saling melengkapi. Menemukannya, yang tengah duduk menungguku di tempat yang dijanjikan takdir. Seperti itu cerita yang telah tertulis untuk hari ini. Apakah yang sedemikian itu cerminan perjalanan kita? Mungkin iya, kau yang menungguku datang dari seberang. Dan mengapa aku memilih kota ini, apakah ini sudah di pilih dan di gariskan?

Ah semakin lama tulisan ini semakin kehilangan nyawanya. Aku sudah bingung memilih kata-kata yang pas, memilih kata yang tepat sudah sulit. Mungkin saat ini aku tengah lelah. Sehingga tulisan ini kehilangan rasanya, dan seolah setiap kata di paksa untuk saling berkomunikasi. 😦

Labyrinth, doc pribadi
Labyrinth, doc pribadi
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s