Cuplikan: MEMANG JODOH


MEMANG JODOH

Karya: Marah Roesli

Tersebutlah Marah Hamli, seorang bangsawan anak Sutan Bendahara dan istri pertamanya Siti Anjani, seorang cerdik pandai yang memilih melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Pertanian di Bogor demi mewujudkan pinta ibunya yang tak ingin jauh dari putra sebijimata-nya itu. Karena bagi siti Anjani, ibunya, dialah satu-satunya tumpuan kasih dan pelipur lara sejak Sutan Bendahara, suaminya, menikah lagi demi menurut adat istiadat nenek moyang ranah minang itu. Walau sejatinya, Marah Hamli, ingin pergi mengembara jauh, demi memenuhi suatu panggilan hatinya yang entah apa, entah dari siapa dan entah untuk siapa. Seperti ada yang memanggilnya untuk datang, seperti suatu hutang yang harus dibayar, namun ia tak tahu hutang pada siapa dan berapa yang harus ia bayar.

Demi ibundanya tercinta, jadilah Marah Hamli berangkat ke tanah jawa bersama nenekda yang tak pernah jauh darinya. Kemanapun Hamli pergi, nenek Khatijah selalu menyertainya. Begitupun untuk sekolah ke Bogor ini, nenek Khatijah selalu setia menemani cucundanya. Hamli sangat pandai bermain biola, dan kepandaian itu dijadikannya pekerjaan sambilan demi memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua. Sebenarnya, kehidupan Hamli dan nenek Khatijah di Bogor di tanggung sepenuhnya oleh mamak Hamli, Baginda Raja, yang sudah mempertunangkan Hamli dengan anaknya sejak kecil. Dikarenakan adat istiadat minangkabau yang berlaku saat itu, mamak akan membiayai kehidupan kemenakannya, dan Baginda Raja memperlakukan lebih demi niat hatinya beroleh Hamli sebagai menantu.

Waktu bergulir, setahun sudah Hamli bersekolah di sekolah pertanian di Bogor itu. Bogor adalah kota yang permai, sekalian penduduknya ramah dan hawanya yang sejuk menenangkan serta memberi kedamaian bagi hati mereka sekaliannya. Tapi, tak satupun jua yang mampu membantu Hamli menjawab panggilan hatinya itu. Panggilan yang entah darimana, dari siapa dan untuk apa. Acapkali ia termenung sendiri, tak berkata sepatah jua, ada rasa sesak di hatinya, rasa pilu, rindu, Penyakit pilu. Datangnya tiba-tiba, tak dapat ditahan, tak dapat di lenyapkan dan tak pula dapat dilipur, ia akan lenyap sendiri. Bahkan ketika penyakit Pilu itu mendadak menyerangnya saat ia sedang makan, ia akan berhenti makan, dan termenung kembali. Sedang nenek Khatijah tak tahu lagi apa yang harus di perbuatnya demi mengobati penyakit pilu cucunya itu. Bahkan sebab musababnya pun ia tak tahu.

Hingga suatu hari, liburan sekolah telah tiba. Hamli dan nenek Khatijah tidak pulang ke Padang, karena kemenakan nenek khatijah, Kalsum, akan datang berkunjung dari Bandung. Sore itu, Hamli menunggu Bi Kalsum di stasiun Bogor seorang diri. Ia terhanyut dalam lamunannya sendiri. Tak disangkanya seorang gadis tengah, memperhatikannya penuh rasa iba. Waktu terus berlalu, hingga tibalah kereta api dari Bandung yang ditunggunya. Alangkah terkejutnya gadis itu beserta Hamli, orang yang mereka tunggu adalah sama, Bi Kalsum. Setelah bersalaman dan berpelukan, pergilah mereka ke rumah Nenek Khatijah bersama-sama. Dibalik pertemuan itu, sebelum berangkat ke Stasiun Bogor, gadis ayu yang menarik hati Hamli sedikit itu, menemani bibinya Radin Asmaya mengunjungi rumah Mpok Nur, tukang tenung di Bojong Neros. Tenungan Mpok Nur terkenal tepat, setelah maksud Radin Asmaya tersampaikan, gadis itu berkelakar meminta Mpok Nur memperlihatkan siapa bakal jodohnya, laki-laki seperti apakah yang akan menjadi jodohnya kelak. Sudah dekat ataukah masih lama ia akan menunggu jodohnya itu. Karena, telah banyak laki-laki yang meminang dan di tolaknya, belum jodoh ungkap hatinya. Mpok Nur dan Radin Asmaya pun penasaran, dan merekan mencoba menenung bakal jodoh gadis itu. Mpok Nur mulai membaca manteranya, menyusun kartu tuanya dan membuka kartu itu perlahan-lahan. Ia berseru dengan girangnya, jodohmu telah dekat bahkan sangat dekat, namun sayang dia adalah bangsawan dari tanah yang jauh, bukan orang tanah jawa ini. Gadis itu dan bibinya tercengang tak percaya. Diulanglah tenungan itu hingga tiga kali, dan hasilnya masih sama. Jodoh gadis itu sudah dekat, dan akan segera bertemu.

MEMANG JODOH. Demikianlah nyata yang harus diterima, seberapa banyak halang rintang, cobaan datang silih berganti, pertentangan keluarga kedua belah pihak, perdebatan hebat hingga pada akhirnya ketetapan hati jualah yang mengantarkan segala juang kepada akhir yang diinginkan. Ketenangan hati, kedamaian dan kebahagian. Meski tak ada satupun di dunia ini yang selalu berjalan sesuai pengharapan. Akhirnya Marah Hamli dan gadis itu, Radin Asmawati menikah dan dikaruniai tiga orang anak. Perjalanan pernikahan mereka tiadalah mulus, kerap kali terjadi hal-hal di luar dugaan yang rupanya datang dari keluarga Hamli atau dari orang-orang yang teringin sekali Hamli menjadi menantunya, orang semendanya. Walau Hamli telah beristri dan beranak, tidaklah mengapa seorang berdarah bangsawan beristri lebih dari satu. Dan begitu pulalah adatnya, memberi aib malu bagi keluarganya jika ia hanya beristri satu dan tak lebih. Namun bagi Hamli tidak sekalipun ia beringin yang demikian itu. Baginya cukuplah satu istrinya, hanya Radin Asmaya ini. Dan demikianlah hingga akhirnya, Marah Hamli beristri hanya Radin Asmawati seorang, hingga hari tuanya, hingga akhir hembusan nafasnya.

***

Membaca sastra lama, saya sangat menyukainya. Terkadang muncul suatu perasaan saya mengalami masa-masa itu. Imajinasi menggambarkan latar belakang tempat dan waktu. Merasakan hal-hal yang tak dapat di rasakan saat ini. Begitu kental adat-istiadat, begitu teguhnya masyarakat memegang adat. Terasa benar perbedaannya dengan saat sekarang ini.

Dan lagi pula, sastra lama, sastra klasik, bahasanya sopan lagi indah. Tak sembarang, bahasa. Sangat suka pula saya menggunakannya, namun apa daya, saya hidup dizaman serba berkebebasan, serba mengikuti perkembangan bahasa. Layak tak layak, tak lagi jadi pertimbangan. “asa malantong” kato urang minang.

Bahasa atuk Marah Rusli, sayapun sangat menyukainya. Mungkin saya terbuai indahnya, karena sebentuklah bahasa itu dengan bahasa minang yang di Indonesiakan. Teringat oleh saya, ketika masa-masa bersekolah di SMAN1 AMPEK ANGKEK, LAMBAH, teman-temanpun sangat suka berkelakar menggunakan bahasa minang yang di indonesia-indonesiakan. Namun sungguh tak seindah bahasa atuk Marah Rusli. Mereka terdengar sumbang dan memperolok-olokkan bahasa Indonesia. Terang saja, dulu saya sangat tak menyukainya. Namun, saya ikut tertawa dan turut pula berolok-olok, bersuka-suka dengan mereka. Maklum mereka belum pernah meninggalkan kampungnya, barang sebentar saja.

Wahai atuk, sungguh aku hidup kurang lebih 100 tahun setelah engkau. Kini adat kita tak lagi sekeras itu, dan kini akupun bersekolah di sekolahmu dulu. Saat ini namanya IPB, Institut Pertanian Bogor. Dan banyak sudah jurusan-jurusan yang baru yang tak ada di zaman atuk dulu. Wahai atuk, banyak yang berubah selang waktu 100 tahun itu. Atuk kandungku dan tetua seusia mereka tak lagi beristri lebih dari satu, kehidupan saudara laki-laki di keluargapun di tanggung oleh ayah, sebagai kepala keluarga. Tak lagi mamak yang membiayainya seperti saat zaman muda-mu dulu. Dan bundaku, telah memilah-milah mana adat yang masih patut diajarkannya kepadaku, dan mana yang tidak. Walau aku tinggal di negeri orang ya atuk, aku tetap sebagai gadis minang yang tau adat. Walau kebebasan orang-orang disini kadang mengguncang jiwaku, menggoyahkan kakiku. Mana jika aku laksanakan akan rusak hati bunda olehku. Demikianlah atuk, sedikit cerita yang aku coba tuliskan mengikuti gaya bercerita dan keindahan tatanan bahasamu. Walau jauh indahnya dari karyamu, aku akan selalu berusaha.

Bogor, 24-26 Mei 2015

Dian Purnamasari

Advertisements

One thought on “Cuplikan: MEMANG JODOH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s