Yan, ini musimmu. Hujan..


DSC_0789Yan, masih tentangmu. Belum sedikitpun aku berubah, belum berangsur hilang dari ingatan tentangmu. Kau yang dulu selalu tersenyum kala hujan turun, dan berlari pulang di bawah payung transparan polkadot biru itu. Dan melambai padaku, selamat menunggu hujan reda,bisikmu sebelum pergi. Aku menatap langkah dibawah hujan dan menghilang di balik rimbunnya pepohonan. Kau tau, aku ingin berteriak, Yan.. Menolehlah kebelakang.. Ayo balikkan tubuhmu. Kau akan melihat sesosok malaikat batu yang masih menunggumu. Aku berteriak, ya aku berteriak dalam hatiku. Ah, pecundang macam apa aku ini..

Yan, kini angin itu terasa sekali menusuk-nusuk tulangku. Dingin, yan.. Tak seperti hari-hari dulu. Aku menentang angin, menembus hujan hanya untuk melihat kau tersenyum. Tak sedikitpun aku merasakannya, senyummu mengalirkan rasa hangat dalam aliran darah di tubuhku. Mungkin ini tentang waktu, tentang usia. Aku yang tak lagi semuda dulu, atau mungkin ini tentang asmara. Aku yang merasa kehilangan dan tak lagi ingat rasanya kehangatan. Hampa..

Yan, masih tentangmu. Tentang musimmu, musim hujan. Musim dimana pepohonan tua itu menghijau dan lebat kembali daunnya. Dan sungai kecil di samping parkiran motor terdengar lagi gemericiknya. Musim dimana aku jatuh cinta untuk pertama kalinya padamu, meskipun kau tak tahu. Musim yang setiap datangnya selalu membunuhku. Melumpuhkan kekuatan-kekuatan yang aku bangun selama musim kemarau. Mematikan strategi-strategi yang kususun untuk melupakanmu. Untuk melupakanmu. Kau tau yan, untuk melupakanmu. Lirih aku bergumam, aku masih belum bisa. Kau terlalu dalam menembus hatiku.

Yan, masih tentangmu. Aku tak pernah menyalahkanmu dengan kesendirianku kini. Walaupun kadang rasa egois dan paling menderita menguasai hatiku. Kau pelakunya, kau tertuduhnya yang membuatku merana seperti ini. Yang membuatku sedemikian gila ingin memilikimu. Aku ingin memakimu, menamparmu dengan dengan rindu dendam yang kusimpan, yang ku pendam. Persetan dengan airmatamu. Tak peduli dengan rintihan pilumu. Aku terluka. Dan disaat bersamaan aku membunuh jiwaku, jiwa yang suci bersama cinta yang suci untukmu. Dan jadilah aku jasad patung patung penghuni kesunyian.

Yan, ini musimmu. Aku berteduh di tempat yang sama. Kala kau bisikkan, selamat menunggu hujan reda. Aku sendirian, yan. Tanpa bisikan darimu, tanpa langkahmu di bawah payung transparan polkadot biru itu. Yang tersisa hanya bayang-bayang kenangan. Mungkin seperti inilah seharusnya. Kau melanjutkan hidupmu entah dimana dan aku memaafkan diriku yang selalu menunggumu. Yang memakimu dalam diamku. Maafkan aku. Hujan, kutitipkan salam rindu untuknya, yan yang aku cinta. Berbahagialah ia bersama pilihannya disana.

****
Nun jauh di kota seberang, seorang gadis belia menuliskan pesan. “hay.. Apa kabarmu disana”. Ditatap dan di ejanya perlahan apa yang ia tuliskan. Diejanya juga nomor tujuan pesan itu, lama sekali. Hingga akhirnya ia membatalkan niatnya mengirim pesan itu.
Sore itu, sebelum matahari tenggelam bersama langkah santai ia berbisik, “Ri, apa kabar kau disana”. Matahari tenggelam menyisakan lukisan jingga yang merona dan gema azan maghrib yang memanggil pulang..

Bogor, 8 – 10 May 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s