Ada Jejak Tertinggal Di Bromo


Bromo buat aku, merupakan tempat tujuan yang tertunda untuk di kunjungi setahun yang lalu. Saat Kelud mulai siaga 3, ternyata Bromo juga ketularan. Dan aku berpikir, kapan? kapan lagi waktunya aku bisa mengunjunginya?

Waktu berlalu, aku meninggalkan Pare dan kembali ke dunia nyata, tempat dimana seharusnya aku berada. Move On. Itu yang harus aku lakukan. Beranjak dari kenyamanan dan rasa bahagia yang aku dapat disana. Menghadapi wajah senja yang memerah, deru kendaraan di jalan raya hingga pagi buta, hujan dan angin yang selalu saja datang tiba-tiba.

Ingat pesan Miss Austin, “Pare merupakan tempat pesinggahan, bukan untuk tinggal selamanya disini. Ambil semua pelajarannya dan kamu harus kembali ke duniamu yang sebenarnya. Dan dimanapunkamu berada, cobalah untuk Survive, bertahan hidup. Cara survive yang paling mudah adalah Act Like Ordinary People. Bertingkahlah, berkelakuan seperti orang pribumi. Maka kamu akan mudah di terima.”

Oke, flashback yang terlalu panjang dan ga ada kaitannya dengan mengunjungi Bromo. -_-

****

Sepulangnya dari Pare, hidup dilanjutkan dengan melamar pekerjaan seadanya, maklum fresh graduate. Pekerjaan di dapat dan kita mulai dengan kehidupan sosial dunia kerja. Dimana perbedaan antara kawan dan lawan tak dapat di definisikan. Siapa yang kawan, mana yang lawan. Siapa yang menikam dari belakang, siapa yang duri dalam daging dan siapa yang benar benar tulus. Risih awalnya berada di lingkungan keras bin kejam itu. Tapi, ini kenyataan. Inilah hidup yang harus aku jalani untuk sekarang dan mungkin seterusnya. Live must go on, dear.. 🙂

Perjalanan panjang dalam sejarah pertemanan dengan orang-orang di kantor itu. Dan akhirnya aku memilih mereka. Memilih? entahlah, memilih atau dipilih. Seengganya kita senang pergi dan berkumpul bersama. Entah apa kata orang, kita ga peduli. Selama kita ga menyalahi aturan dan ga merugikan orang lain.

Awalnya akhir januari mau ke Pedalaman Suku baduy, tapi belum kesampaian. Akhirnya ada wacana untuk pergi ke Bromo. Awal maret. Oke, semuanya di atur dan di jadwalkan. Cuti bersama dan besar-besaran.. hahhahaa.. Demi liburan ke Bromo…

Akhirnya Maret tiba, cuti sudah di tangan. Dan tiket kereta Matarmaja seharga Rp. 65.000 pergi dan Rp. 65.000 pulang sudah di tangan. Setelah di hitung-hitung dengan matang, untuk hidup (makan, penginapan, jeep) di Bromo kurang lebih 2 hari 2 malam Rp. 400.000 / orang. Dan kita sepakat, dan kita setuju. Akhirnya kitaaa.. Melangkaah ke Bromo.. 😀

Tentara Langit di Bromo
Tentara Langit di Bromo (bukit Teletubies)

 

Menuju Kawah Bromo
Menuju Kawah Bromo

 

Rumput dan Embun
Rumput dan Embun

 

Terbaik
Terbaik
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s