Dilamar itu …


Ada banyak cara Tuhan menghadirkan cinta” ya petikan lagu itu menghanyutkan semua rasa yang entah tak ku tahu seperti apa. Bercampur menjadi satu adonan yang kusebut hampa, tak tahu harus apa. Menangis, tertawa, tersenyum, bangga, bahagia atau bingung dan muncul pemikiran paling bodoh sedunia, aku ingin mati saja. Aku ingin lari, tapi tak tahu kemana, aku ingin sembunyi tapi sepertinya aku takkan menemukan tempat yang tak kau ketahui. Kau seperti udara, ada disetiap jengkal tanah Tuhan ini, kemanapun aku bersembunyi kau akan menemukanku. Atau aku yang seperti magnet, hingga kemanapun langkah ku ayunkan, kau akan selalu merasakannya, aku ada di dekatmu. Tolong jangan artikan itu cinta.

Waktu berlalu, semuanya berubah. Rambutku semakin panjang, aku bertambah tinggi (meskipun ngga nyampe 5 cm nambahnya.. -__-), beratpun ngga stabil karena faktor stress mungkin, pengalaman bertambah dan gurupun juga pasti bertambah, karena pengalaman adalah guru paling hebat. Mungkin dimata sebagian orang, aku masih seperti dulu, tak ada yang berubah, masih kekanak-kanakan dan bahkan tak jarang ada yang menyangka aku masih pelajar SMA bahkan sempat di kira pelajar SMP, untung ngga dikira anak TK.. -__-

Usia yang bertambah, membuat waktu terasa semakin sempit, waktu terasa semakin dekat. Tentang apapun, aku sering berpikir, jika esok tak ada lagi waktu untukku untuk menghirup udara penyambung hdiup ini, jika besok tak ada lagi kesempatan untukku tersenyum dan melihat orang lain tersenyum, jika esok aku tak lagi mampu sekedar untuk mengucapkan bahwa aku rindu padamu ma, bahkan aku tak mampu mengambilkan segelas airputih untuk mu pa, saat sore datang kau pulang dengan bau keringat itu, dengan lelah itu.. Oh Tuhan, aku sayang mereka..

Tak ada yang mampu mengelak dari waktu, mungkin waktu adalah musuh ataupun penyelamat. Dan waktu pula yang mengantarkanku, mengantarkan setiap orang, ke suatu masa untuk memilih. Memilih atau dipilih, atau memilih dan dipilih. Entahlah semua terasa buram dalam penglihatanku, semua terasa menyesakkan didada kala harus mengingat itu. Bukan munafik, saat seseorang datang dan berargumentasi tentang perasaannya, dulu, dengan gampang untuk mengatakan iya atau tidak. Dan dengan gampang pula mengatakan “udahan ya, aku bosan.”
Tapi sekarang, ketika yang datang berargumentasi tentang perasaannya, komitmen dan masa depan. Oh God, aku ingin tuli sesaat dan aku ingin buta sekejap. Aku tau, aku, kamu atau semua orang menginginkannya, menikah dan mempunyai keluarga kecil yang romantis dan harmonis. Akupun tahu, setiap orang akan berusaha mendapatkan apa yang diinginkannya, yang dirasa terbaik untuknya. Pasti ia setengah mati akan berusaha mendapatkannya.
Tapi ini tentang rasa, rasa yang tak bisa dipaksa, rasa yang tak mampu terdefinisi oleh rangkaian kata, bahkan logikapun tak sanggup menjelaskannya. Disana ada hati yang akan menjawabnya, entahlah dengan algoritma apa, MD5, Dual ataupun algoritma enkripsi lainnya. Terkadang hati itu seperti device jaringan, sesama perangkat dapat saling mengerti karena menggunakan algoritma yang sama. sedangkan yang lainnya hanya bisa mengamati dan melewati tapi tidak untuk memahami dan mengerti.

Wanita akan sangat bahagia ketika ada yang datang menyatakan cinta dan komitmen pasti dalam ikatan suci, begitupun aku. TAPI… kala orang itu datang disaat aku sendiri belum siap untuk memulainya, ketika yang datang bukan yang aku tunggu, akupun belum sempat untuk berpikir kesana, aku masih asyik dengan kehidupan santai nan single ini. Aku menikmati setiap waktu dengan teman-temanku yang rerata adalah cowok. Akupun suka berjalan sendirian di pagi minggu ke lapangan olahraga sempur, dan memperhatikan setiap pasangan yang bergandengan tangan. Ya mereka adalah pasangan yang sah, dan wanita itu perutnya mulai membesar, ya dia hamil. Oh GOD, aku belum siap untuk menghadapi kondisi itu. Aku takut, dan masih takut. Ya, aku belum siap. Dan seseorang, dua orang membicarakan hal yang aku takutkan. Lamaran ringan yang aku anggap bercanda, sugguh aku jadikan lelucon, maaf jika itu membuatmu terlihat dipermainkan. Tak ada niat sedikitpun untuk itu, aku hanya ingin lari. Lari dari obrolan seriusmu. Lari dari masalah yang aku tak tahu cara menolaknya dengan halus. Aku benci, jika aku terperangkap dan tak mampu merangkai kata untuk menyatakan jangan tunggu aku. Jangan tunggu aku, aku belum siap untuk semua itu..

jauh dilubuk hatiku

Ini semua mengacaukan pikiranku, aku ingin lari, aku ingin sembunyi terakhir aku ingin mati. Setiap saat kau ucapkan itu, serasa ujung tombak ada di tenggorokanku. Mati. Ya, rasanya ingin mati saja, harus menyakiti banyak hati, rasanya aku tak mampu lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s