Pekan Kondom Nasional


Desember telah tiba, mengantarkan hari-hari kepenghujung tahun. Dua puluh kali Desember telah aku lewati dalam hidupku yang singkat ini. Namun, Desember tahun ini ada yang ganjil, ganjil atau memang aku yang apatis terhadap hari-hari peringatan nasional di Negaraku tercinta ini. Apakah aku terlalu menutup diri dengan semua kejadian di luar sana, seperti korban perang yang terjebak di dalam hutan dan tak pernah berani untuk keluar dari pedalaman, hanya untuk mengetahui bahwa Negara ini sudah merdeka? Masuk dalam kategori manapun aku saat ini, aku tak peduli. Aku terlalu lugu rasanya untuk hanya sekedar mengamati politik di negeri ini. Berpendapat dan bersuara layaknya anak kecil yang tak berdosa.

Menyambut peringatan hari AIDS sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember, katanya di negri ku tercinta ini ada sebuah acara yang disebut Pekan Kondom Nasional. Masih katanya lagi, salah satu rangkaian acara ini adalah akan adanya “BUS KONDOM” yang akan mendatangi tempat-tempat nongkrong anak muda yang beresiko. Tetap masih katanya, BUS ini berwarna merah dan ada gambar artisnya gitu, ya you know lah, dengan gaya tak sedap dipandang mata gitu. Aku tak mengerti maksud kalimat “anak muda yang beresiko”. Dari yang aku baca sih, katanya bis ini akan membagikan kondom gratis. Lah?? Jadi tujuannya mendatangi tempat nongkrong “anak muda yang beresiko” itu untuk merestui kelakuan mereka, secara tidak langsung bisa dikatakan begitu tho? Oalaaahh wong edaan..

Sejujurnya sih, aku masih tabu dengan yang namanya kondom, mungkin karena aku ini masih unyu dan imut-imut.. hehehe.. Bukan, bukan itu yang sebenarnya aku maksud. Indonesiaku ini, adalah negeri timur yang indah dalam aneka ragam adat dan budayanya. Lemah lembut dalam tutur bahasanya, santun dalam perbuatan dan budaya malu yang begitu kental di sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Untuk segolongan orang, mungkin sah-sah saja membicarakan hal-hal sedemikian vulgar, namun untuk beberapa golongan lain hal ini terasa tabu. Apakah bisa kita tetap mempertahankan budaya negeri ini ditengah gelombang arus budaya barat yang semakin menusuk mencoba masuk dan mempengaruhi cara berpikir orang muda. Mungkin orang tua terasa sudah begitu kuno dan keras untuk dipengaruhi. Lagi pula sisa waktu kaum tua yang idealis itu sudah takkan lama lagi, kalau pun masih lama apakah mereka akan tetap berpengaruh? Tentu tidak, usia menjauhkan mereka dari peradaban orang muda yang mengaku pintar dan lebih modern. Seperti yang dialami presiden Soekarno.

Setelah bertele-tele, aku harap kau mengerti maksud tulisan ini. Diluar sana sedang santer isu tentang “Pekan Kondom Nasional”, yang katanya membagi-bagikan kondom gratis, bus kondom dengan model iklannya, dan banyak isu lainnya yang akupun malas menuliskannya satu persatu. Banyak kalangan masyarakat yang kontra terhadap event ini dan banyak pula yang pro. Aku tak mengerti. Sedikit hal yang aku fahami adalah memperingati hari AIDS bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran betapa bahayanya wabah AIDS yang menyebar melalui virus HIV, virus yang menyebar melalui hubungan seks yang tidak aman, berganti-ganti pasangan dan menggunakan jarum suntik secara bergantian, lah penyebab AIDS banyak ya ternyata, tapi mengapa harus bagi-bagi kondom gratis?? Aneh tho…  Ada berbagai macam cara untuk menumbuhkan kesadaran terhadap sesuatu, bukan? Cara yang benar dan sesuai dengan citra budaya bangsa, tidak mengikuti trend dan budaya asing, mungkin itu akan lebih baik dan mudah diterima masyarakat.

Memperhatikan dalam diam, dan berbicara melalui tulisan layaknya anak kecil yang tidak berdosa, berlari dan memeluk ibunya sambil berkata, “Bu, mengapa saudara-saudara kita begitu panas darahnya, mengapa mereka begitu mudah terpancing dengan cerita yang masih belum tentu kebenarannya kemudian menjadikannya masalah besar. Mereka terlalu sibuk mengurusi kata orang dan gossip tak berguna lainnya. Berkedok kebaikan demi melancarkan bisnisnya. Bu, aku rasa diluar sana orang-orang tengah menertawakan kita. Kebodohan yang tak di sadari ini mencoreng nama kita dimata dunia. Ketika mereka tertawa, kitapun ikut tertawa,bu. Dan saat itu kita akan terlihat semakin bodoh saat menertawakan kebodohan diri sendiri, iya kan bu?”

Bogor, 3 Desember 2013 © Dian Purnamasari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s