SEMARANG


Bayangmu, kerlipan lampu dimalam gerah dan licau burung di penghujung senja. Seketika merasuk kepikiranku, saat tak sengaja kubaca namamu pada salah satu tumpukan buku di gramedia. Tiba-tiba ada rasa rindu yang menyeruak didalam dada. Akupun tak tahu darimana datangnya rindu itu. Perlahan rasa itu menyesakkan dada, namun tetap saja aku tak mengerti apa yang kurindukan dari mu, Semarang kota Atlas.

Kita pernah bersama dalam suatu rentetan peristiwa, menempuh perjalanan yang sama sekali buta, tak tahu arah. Tapi perasaan ini ada bukan karena aku mengingatmu, jangan berfikir aku merindukanmu. Kupastikan itu takkan terjadi, karena sejak hari itu aku membencimu. Ini bukan tentangmu, ini tentang Semarang kotaku. Ahhh?

Semarang, bagaimana keadaanmu? Masihkah gerah seperti saat aku mengunjungimu untuk pertama kali dulu? Atau bertambah gerah karena rasa rindu tengah membakar jantungmu? Semarang, sedang apakah kau disana? Masihkah bocah peminta-minta itu berkeliaran ditugu Muda Simpang lima? Memperhatikan setiap pengunjung sembari menadahkan tangan, atau hanya sekedar menikmati keindahanmu dimalam sunyi. Semarang, tunggu aku setahun lagi, aku ingin merajut mimpi bersamamu, jika Tuhan hendaki..setahun lagi.. Semarang.. aku bersamamu..

semarang

Bogor, 22 september 2012 © Dian Purnamasari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s