Bermain Gelembung


Bermain gelembung, mendengarnya kau pasti akan tertawa. Seorang seusiaku melakukannya. Kau pasti menerka-nerka, “waah masa kecil  kurang bahagia nih” lalu kau pun menertawakannya. Tentu saja aku tak bercanda melakukannya. Kaupun tak bercanda menetawakannya, bukan? Sambil bergumam didalam hati, dasar kekanak-kanakan. Kekanak-kanakn? Ya, terserahlah. Aku tak peduli, karena untukku, aku memiliki alasan mengapa aku melakukannya.

Kau tahu, saat-saat terburuk di fikiranku adalah saat aku mengingatmu, terputar kembali rekam ingatan tentang malam itu di benakku, “Maukah menjadi istriku? Lima tahun bukanlah waktu yang lama. Untukku, saat ini aku tak menganggap pacaran layaknya anak SMA. Aku ingin mencari bakal istriku. Mau kan menjadi istriku?” Arrrggghhh aku tak tahu, sampai saat ini aku masih enggan memikirkannya. Terlalu banyak pertimbangan yang akupun tak mengerti bagaimana cara menimbangnya, apa besarannya, layak atau tidak untuk diputuskan dan menjadi pilihan.

Kau tak tahu,aku bermain gelembung diatas genteng kamar itu karenamu. Saat cetakan gelembung itu tertiup angin, maka akan muncul gelembung lucu yang bervariasi jumlah dan ukurannya. Aku suka, saat angin bertiup sedikit lebih kencang menggeraikan rambutku dan meniup cetakan gelembung itu. Dan gelembung-gelembung itu terbang mengikut angin berhembus, hingga saatnya ia pun akan pecah satu persatu, aku bisa tertawa lepas dan melupakanmu sejenak. Hanya dalam dunia kekanak-kanakan yang kucipta sebentar saja.

Bogor, 21 September 2013 © Dian Purnamasari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s