Dari Bogor ke Semarang (3)


episode Matahari di Puncak Monas

Persiapan menjelang keberangkatan. Setelah shalat Ashar selesai ditunaikan kami memulai langkah menjemput impian lagi.Langkah awal adalah menuju ruang tunggu. Disini sudah banyak orang yang entah sejak kapan menunggu panggilan untuk menaiki kereta yang diinginkan. Entahlah, semua mulai terasa asing. Semua orang bergulat dengan pikiran masing-masing, tergurat harapan diwajah mereka. Walau semuanya tersimpan rapi tanpa kata. Ah sudahlah, aku tak ingin menerka-nerka apapun saat ini. Aku hanya membiarkan perasaan-perasaan itu mengalir apa adanya. Kesibukan kami bertiga berbeda-beda. Jalu duduk sambil membaca Alqur’an, Adit duduk diam dan entah apa yang dipikirkannya. Sedangkan aku, aku berdiri menjauh dari mereka berdua dan menelpon mama dan papaku tersayang, pamitan mau berangkat ke Semarang. Dan tak lupa, kemanapun aku akan pergi aku juga memberitahunya. Seseorang yang disana. ๐Ÿ™‚

Ketika waktunya tiba, panggilan telah tersampaikan. Dan kami bertiga melangkah menuju kereta yang telah dipesan beberapa waktu sebelumnya. Memasuki gerbong kereta, tak ada yang berbeda. Kami menuju tempat duduk masing-masing. Sungguh sangat menyenangkan memang, menjelang senja menikmati matahari di puncak Monas. Sungguh aku hanya salah satu dari jutaan orang yang sempat memikirkan dan menikmati keindahan senja sore ini. Berdiri megah disana dengan lapisan emas murni di puncaknya, bisa jadi membuatnya sombong akan keindahan pada dirinya. Terlalu banyak pelajaran yang bisa dipetik jika kita mau memikirkannya, jika kita tak ragu untuk jujur mengakuinya.

Entah sejak kapan aku mulai menyukai matahari senja. Menikmati cahaya jingga yang semakin lama semakin teduh dan indah. Dan aku terbiasa menikmatinya sendiri. Matahari di puncak Monas, berkilau menyilaukan mata yang kian menantang pandang. Menerangi senja yang tak dipedulikan kedatangannya. Berlalu begitu saja. Orang-orang dengan kesibukan luar biasa lupa menikmati keindahan yang ditawarkan alam tanpa berbayar itu. Saat senja mulai merambat, merekapun membiarkannya berlalu begitu saja. Tak tahu apa yang mereka lakukan ketika melepas lelah. Menonton televisi, mendengarkan acara musik di radio atau segera aktif di kehidupan sosial dunia maya. Padahal Tuhan telah menyediakan hiburan terbaik bagi umatnya. Aku semakin tak peduli dengan keadaan sekitar, saat ini bagiku mereka hanya patung yang menemani kesendirianku. Perasaan asing dan sendiri kembali merasukiku, aku ingin sendirian tanpa ada yang mengganggu. Ya, saat itu tak ada memang interaksi antara kami bertiga. Sibuk dengan pemikiran masing-masing, mungkin sedang melawan rasa rindu yang tiba-tiba menyeruak saat hendak meninggalkan kota Jakarta.

Matahari di puncak Monas, perlahan semakin mendekat. Seolah seperti seorang kekasih yang mencium dahi kekasihnya, saat ia akan pergi meninggalkannya untuk beberapa waktu. Tak ada yang peduli bukan? orang-orang ini hanya duduk diam tanpa harus menikmati rasa haru yang mulai menyergap tiba-tiba. Aku hanya berlari dalam diamku, mengejar bayanganmu. Hanya sekedar bayangan dalam anganku. Meski aku harus segera tersadar kau tak disini. Ah terlalu jauh aku terhanyut dalam lamunan kerinduan yang tak bertepi.ย  Aku tahu, seharusnya aku membiarkan semua perasaan ini mengalir seperti air di sungai ditengah hutan mengalir dalam diam dan tenang. Bagitu slalu yang kau ajarkan padaku. ๐Ÿ™‚

Matahari dipuncak Monas menyimpan pesona tersendiri, dan perlahan kereta ini melaju pelan meninggalkan Monas. Dan matahari senja itu kini tak lagi di puncak Monas. Jakarta terlihat sepi dari sini. Jakarta sendirian. Semuanya sendiri meski semuanya terlihat dekat. Sudahlah tak perlu dibahas. Saatnya ucapkan selamat tinggal untuk Jakarta untuk beberapa hari kedepan. Wajah lelah itu terlihat bersemangat. Diam-diam aku merekamnya dan menyimpannya disini. Di brankas ingatan yang tak terbatas. ๐Ÿ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s