Dari Bogor ke Semarang (2)


episode Bogor – Gambir

Stasiun Bogor menyambut kedatangan kami disiang terik itu. Memberikan layanan terbaik  dengan wajah yang berbeda dari sebelumnya. Menampilkan suasana stasiun layaknya stasiun yang sebenarnya. Tanpa pedagang kaki lima, tanpa orang yang meminta-minta yang entah jujur atau hanya sekedar berpura-pura ulah malas bekerja. Ironisnya kecacatan tubuh menjadi alasan utama agar orang lain mengasihani dirinya. Jika itu hanya berpura-pura, sungguh sangat tidak berterimakasih pada yang Maha Kuasa atas nikmat sehat yang telah dikaruniakan-Nya.  Adapula yang melakukannya dengan menyapu kereta, terlepas bersih atau tidak, ia tetap meminta hasil dari jasa yang telah dilakukannya. Padahal seharusnya itu merupakan kewajiban pihak kereta tanpa harus meminta bayaran kepada penumpangnya. Lagi ada yang mengais rezkinya dengan berjualan minuman, tisu masker dan sejenisnya, dan itu silih berganti bukan hanya satu dua orang saja.

Hingga kereta melaju meraih stasiun terakhirnya, tak lagi kutemui oknum-oknum seperti itu. Kenyamanan kini lebih diutamakan. Kami memilih kereta jenis Commuter Line dengan alasan kenyamanan yang lebih baik. Selaksa perjanan yang harusnya kurenungi. Dalam diam aku tak bisa mengartikan apa yang akan terjadi nanti, hanya mereka-reka kenyataan yang masih terlalu buram. Karena waktu yang berlalu tak mungkin berulang. Deru suara kereta seolah seperti nyanyian rindu untuk menjemput kekasih hati. Berlari tanpa harus khawatir untuk berhenti, karena pemberhentian terakhir takkan lelah menanti.

Seperti pepohonan dan rumah-rumah yang tertinggal di belakang kereta. Aku menyadari suatu hari nanti aku, kita akan berperan sebagai pepohonan itu. Tertinggal dalam lintasan waktu. Berada diantara mereka itu kini, saat ini. Tapi, mungkin satu detik lagi, satu hari lagi, satu minggu lagi, satu bulan lagi atau bahkan mungkin setahun lagi, semua ini akan tinggal kenangan. Mungkin mereka akan berubah atau aku yang akan berubah. Aku yang akan pergi atau mereka yang akan menjauh dariku. Seperti pergerakan lempeng dalam perut bumi. Bergerak menjauh ataupun mendekat, akan menyebabkan kerusakan fatal dipermukaan bumi. Menyisakan airmata, luka dan rasa trauma yang sulit terobati. Kata yang tepat untuk memaknai arti tak ada yang abadi.

Mereka yang mulai terserang rasa mengantuk mulai memejamkan matanya mengikuti buaian lembut kereta senja ini, meski matahari masih seperempat lagi menuju peraduannya. Semua terasa asing dan masing-masing. Aku hanya diam menatap kelelahan yang akan segera kami tempuh, kelelahan yang nantinya akan kita kenang bersama sebagai sebuah kenangan. Aku tak tahu kau dan kau akan mengingatnya sebagai kenangan indah atau bukan. Tapi yang pasti, itu semua meski kau katakan kau melupakannya, kau takkan pernah benar-benar melupakannya. Dia tersimpan dalam gulungan memori di brankas abadi.

Stasiun tujuan telah menunggu, dan akhirnya kita harus melanjutkan perjalanan. Gondangdia tempat persinggahan dan kita memilih untuk melanjutkan ke Stasiun Gambir dengan berjalan kaki. Terik kota Jakarta seolah menjadi tantangan pertama untuk menguatkan langkah demi tantangan yang lebih berat. Hanya diam dan bermain dengan pikiran masing-masing. Aku tak peduli. Biarkan mereka bergelut dengan pikirannya dan akupun juga begitu. Tantangan selanjutnya adalah menyebrang jalanan ibukota yang tak pernah sepi dari kendaraan. Buat aku sih itu tantangan, maklum aku kan bukan warga ibukota. 😀 Didesaku sana, mau tiduran dijalan raya juga bisa. #lebay.

ooh akhirnyaaa, stasiun Gambirpun didepan mata. Hal yang paling pertama dicari adalah Mushalla dan selanjutnya penukaran tiket kerta demi mendapatkan tiket yang sebenarnya. Anrian nyaa,, waaah lumyan panjaang.. Sebagai orang yang bertanggung jawab akan tugasnya, mereka berdua beristirahat dan aku yang menikmati antiran panjang ini bersama lamunanku. Terasa berat memang beban di pundakku, tapi tak apalah aku sudah terbiasa. Keberangkatan sudah di tetapkan pada pukul 16.45, yah itu masih ada waktu 75 menit lagi dan itu adalah waktu yang masih cukup banyak. Aku mulai menghitung orang-orang didepanku. Masih 15 orang, lalu aku melamun lagi seraya maju selangkah demi selangkah menyeret tas yang tak lagi kusandang kini. Tak terasa langkah-langkah kecilku semakin jauh, kini aku mulai menghitung lagi. Daan waah tersisa 6 orang didepanku. Dan Jalu, temanku, datang menghampiri dan mengambil tasku. Biar ga susah katnya, ^_^, memang teman yang baik dan pengertian.. 😀
Akhirnyaa, langkah-langkah kecilku berakhir didepan sebuah meja kecil dan tertutup kaca. Lima menit saja, semuanya selesai. Selanjutnya adalah menunaikan kewajiban kepada-Nya, dan minta izin pada mama dan papa untuk berangkat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s