Dari Bogor Ke Semarang (1)


episode Persiapan

Hari itu, Rabu 19 Juni 2013. Perjalanan mencari harapan dimulai. Perjalan menuju kota Atlas. Kota yang dulu pernah tertulis di Dinding dan di kalender pribadiku. Meski aku gagal meraih dan mewujudkannya. Namun, kenyataan membawaku tetap untuk mendatanginya. Walau hanya untuk sekedar datang dan menemani saja. Anggap saja itu hadiah kelulusan dari bapak penguji dan pembimbing.

Sedari malam semuanya telah dipersiapkan. Baju yang disetrika dan ditata rapi didalam tas masing-masing. Buku dan komputer jinjing telah dipersiapkan untuk tak ditinggalkan. Pagi itu merupakan pagi yang sangat sibuk untukku. Aku menyiapkan semuanya, diawali dengan menelpon ibunda tercinta, merapikan istana mungilku, mencuci sprei dan selimut, mencuci pakaian yang tersisa, merapikan setiap sudut meja rias fungsi ganda. Sehingga, saat aku pulang nanti semuanya terasa rapi dan nyaman untuk beristirahat sepanjang hari. Waktu berlalu terasa begitu cepat, tak terasa matahari telah meninggi dan aku mesti bergegas. Masih ada sedikit keperluan yang belum sempat aku penuhi, membeli camilan dan obat-obatan sederhana untuk perjalanan nanti.

Siang kian merambat, hingga tibalah waktu untuk memulai perjalanan ini. Ku kirim pesan singkat untuk memastikan dua sahabatku telah makan siang dan tak melupakan waktu keberangkatan yang telah kita sepakati. Satu jam sebelum waktu yang disepakati, aku masih sempat untuk makan siang, mengangkat jemuran dan menjemur selimut serta menyapu istanaku. Saat kulangkahkan kaki, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 12.40 siang. Aku bergegas, memacu langkah secepat mungkin. Aku tak mau terlambat atas janji yang aku buat. Dibawah terik matahari aku bersenandung riang, menapaki jalan-jalan malabar yang akan kutinggalkan untuk beberapa hari kedepan. Kupacu langkahku karena panas yang semakin menusuk dan membuat keringat menetes. sebelum menyebrang jalanan di depan Pangrango Plaza aku atur nafasku yang terengah-engah. Dengan langkah gontai dan pasti aku menyebrangi jalanan yang sedikit agak macet siang itu. Dan apa yang kutemui? Mereka berdua tidak disini.

Mereka tak disini. Hanya ada beberapa orang pegawai kebersihan dan pemulung yang berlalu lalang. Sedikit mendramatisir keadaan, aku mengirim pesan singkat pada mereka. “Apakah saya terlambat hingga kalian berdua tidak ada disini?” kira-kira seperti itu isi pesan singkat tersebut. Tak berapa lama akupun menerima balasan bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat yang dijanjikan. Aku bisa bernafas lega sekarang, aku tak terlambat memenuhi janjiku. Aku tak memungkiri perkataanku. Jika mereka terlambat, itulah mereka.

Aku tahu setiap detik yang kita lalui terdapat banyak pelajaran jika kita mau memahami dan merenungkannya.

Mengerjakan sesuatu disisa waktu yang tidak banyak atau disebut juga kepepet terbukti lebih efektif dan lebih ampuh ketimbang menyicilnya di setiap hari yang panjang. 😀
Setiap orang berusaha untuk menepati janji dan sesuatu yang telah disepakati, hanya saja ada sesuatu dan lain hal yang membuatnya terlambat untuk menepatinya. So, tetep positive thinking yaaa.. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s