Lalu, apa sekarang?


Hidup dikota adalah harapan semua orang. Pemikiran mereka adalah bahwa hidup dikota akan jauh lebih menyenangkan dari pada menuai padi di sawah, dari pada memancing ikan disungai atau dari pada duduk sebentar bercengkrama dengan para tetangga. Pemikiran mereka adalah penghasilan yang melimpah, rumah mewah dan kehidupan yang mudah. Sungguh, pemikiran dangkal yang belum tersentuh oleh kenyataan. Fantasi yang bergelantungan begitu tinggi hingga tak lagi bisa berpikir jernih untuk menyambut kenyataan yang tak sama dengan khayalan.

lalu apa sekarangTak ada yang perlu disesali, saat semua telah terjadi. Karena layaknya kehidupan, penyesalan itu hadir disaat semua telah terjadi. Bukanlah disebut penyesalan saat menyadarinya sejak semula, dan hal itu disebut kesadaran. Dan kesadaran pula yang jarang datang pada kita manusia. Keinginan untuk mencapai tujuan, mimpi bahkan khayalan telah menghipnotis diri lebih dari apapun. Sehingga, tak berpikir dengan matang dan hati yang jernih dalam mengambil keputusan.

Saat semua telah terjadi, tabir keindahan kehidupan kota tersingkap dalam drama kehidupan yang berkepanjangan. Tiada lelah terus menggerus hati betapa pahitnya kehidupan ini. Betapa salah dan tergesa-gesanya dalam pengambilan langkah. Jatuh terperangkap dalam indahnya khayalan. Karena sesungguhnya yang indah itu hanya ada dalam fantasi semata dan kehidupan itu tak sesuai dengan harapan.

Kehidupan kota yang cenderung egois dan meletakkan kepentingan pribadi diatas kepentingan umum sangat bertentangan dengan apa yang pernah kehidupan desa ajarkan. Kehidupan gotong royong dan saling membantu itu kini hanya tinggal teori dalam buku-buku pelajaran kewarganegaraan yang telah usang. Kehidupan selaras dan penuh toleransi seperti secarik mitos yang melegenda. Kehidupan saling tolong menolong itu kini hanya berlaku sebelah pihak, jika kau berguna bagi mereka maka mereka akan bersikap manis kepadamu, menggunakanmu dan memolongmu. Jika nanti manfaatmu telah habis dan ada yang lebih baik lagi, maka pengasingan adalah rumahmu. Dikucilkan, dianggap rendah, diremehkan, disebut penjilat dan sebutan menyakitkan lainnya. Dan hal yang paling tidak masuk akal, ketika tak berguna lagi, mereka akan mengasingkanmu. Membuat-buat alasan agar tak ada yang mau mendekat. Hal ini berlaku juga, saat kau dengan tak sengaja menyakiti hati mereka. Menghadirkan perasaan lebih baik berada di gua di tengah hutan daripada berada di tengah keramaian namun merasa kesepian.

Kehidupan itu milik Tuhan, Tuhan memberikan keadilan dalam setiap detik kehidupan. Tiba saatnya kehidupan memperlihatkan bahwa ia hidup berputar seperti bola dunia yang sering terlihat dulu saat pelajaran IPS di kelas 5 SD. Kehidupan memberikan sedikit pelajaran untuk menghargai kekurangan, membuat mereka mengeluh berlebihan. Mengungkit-ungkit kebaikan dan bertindak seolah hamba yang tak pernah berdosa. Membuat keegoisan itu semakin nyata, karena berputarlah roda itu bisa berubah dan berpindah tempat. Itu hal yang sulit diterima, untuk orang-orang yang berpikiran dangkal.Menganggap langit hanya satu, yang terlihat saja. Padahal sejatinya, diatas langit yang terlihat masih ada ntah berapa lapisan langit lagi. Hanya orang yang berpikir dan berhati lapang yang bisa mengerti bahwa dirinya bukanlah berbeda dengan orang-orang kebanyakan, termasuk orang yang melihat langit yang sama.

Lalu, apa sekarang? Tak ada yang bisa dilakukan, tak ada yang bisa dipertahankan, selain hati yang teguh dan prinsip yang kuat dan perjuangan yang tak kenal lelah. Membuka hati dan mengikhlaskan semua yang telah terjadi, karena terlanjur memilih jalan ini. Tinggallah usaha memperbaiki diri meluruskan jalan, semoga bertemu di titik yang sama dengan impian sebelumnya, meskipun melalui jalan yang berbeda. Melewati alur-alur kehidupan yang mengajarkan betapa liciknya orang-orang dalam mencapai tujuan dan kepuasan egonya.

Sekarang yang tersisa hanya semangat untuk memberikan yang terbaik, untuk cinta dan rindu yang telah lama menyesakkan dada. Rasa yang menunggu untuk ditumpahkan dalam satu pertemuan bersamamu, ibu, ayah.. I MISS YOU..

Bogor, 1 Mei 2013 © Dian Purnamasari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s