Semut Merah dan Dinding Putih


Aku seperti seekor semut yang berjalan-jalan didinding putih ruangan ini. Bisa melihat apa yang terjadi, mendengarkan apapun yang mereka bicarakan. Merasakan emosi-emosi yang terpercik dari lontaran kata-kata yang tak semestinya. Merasa benar dan berkuasa atas hal-hal yang tak menjadi haknya. Memprotes apa saja yang tak sesuai dengan keinginan hatinya. Sungguh angkuh dan sombongnya mereka.

Selayaknya semut merah yang menjalari dinding putih ruangan ini, terlihat begitu jelas. Namun tak diperdulikan. Sepertinya mereka lupa, semut itu juga memiliki indra, pendengaran, penglihatan dan perasaan. Semut merah itu bisa saja menangis, tapi airmatanya tak ada yang mampu menghapusnya. Tak ada yang akan merasakan pedih hatinya, selain dirinya sendiri.

Bogor, Februari 2013 © Dian Purnamasari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s