Oh Socrates


Socrates seorang filosof Yunani yang di hukum mati karena mempertahankan apa yang menurutnya benar. Ia minum racun cemara di depan para kaum sophies karena bertentangan pendapat dengan mereka mengenai kebenaran. Kebenaran berasal dari hati nuruani, dan semua manusia tahu itu, namun kaum sophies mengatakan kebenaran dapat dihasilkan dengan bermusyawarah ataupun dengan melakukan vote.

Jejak pemikiran Socrates, berkembang seiring berjalannya waktu, pro dan kontra tetap saja ada. Mereka yang pernah menjadi muridnya mengembangkan dan mendasarkan teori barunya kepada teori-teori sang guru yang telah pergi. Tak dapat dipungkiri, buah pemikiran Socrates itu seperti buah yang belum mateng. Saat iya mati karena minum racun cemara, mereka menikmati buah belum mateng tesebut. Namun setelah kepergiannya, setiap kepala muridnya mematengkan buah yang mereka dapatkan dari Socrates dan menciptakan rasa yang berbeda, cara pandang dan pendekatan yang berbeda. Tapi apapun itu, semuanya tergambar di zaman ini. Zaman disaat aku yang hidup didunia, bukan Socrates, bukan muridnya dan tidak ada lagi orang-orang seperti mereka.

Antisthenes, seorang murid Socrates yang tertarik pada kesederhanaan sang guru. Antisthenes hidup dalam kelompoknya yang disebut dengan kaum sinis. Sungguh mereka hidup dalam kesederhanaan, bahkan sangat sederhana. Mereka hanya membutuhkan sebuah tong untuk tempat tinggal, mantel untuk melindungi dari panas dan hujan,tongkat serta sebuah kantong roti untuk menyimpan makanan. Bagi mereka, kebahagiaan bukanlah hidup mewah dan memiliki materi melimpah, kesehatan bukan bagian dari kebahagiaan, dan kekuasaan politik hanya menyusahkan serta mereka tak perlu memikirkan kesengsaraan orang lain. Menurut mereka, kebahagiaan sejati hanya akan terpenuhi jika kita tak lagi bergantung pada hal lain yang bersifat acak. Karena syarat kebahagiaan yang teramat sangat sederhana ini, maka setiap orang dapat meraih dan memiliki kebahagiaan. Hingga saat ini istilah sinis dan sinisme masih kita gunakan untuk menggambarkan orang yang tak peduli atau yang tidak peka terhadap orang lain dan juga menggambarkan ketidak percayaan yang mengandung cemooh pada ketulusan manusia.

Antisthenes bukan satu-satunya murid Socrates yang melandaskan pemikiran barunya dari Sang Guru, Aristippus juga adalah salah satu murid sang filosof hebat itu. Namun, ia memiliki pandangan yangberbeda dengan Antisthenes, menurutnya “Kebaikan tertinggi adalah kenikmatan, Kejahatan tertinggi adalah penderitaan”. Sehingga ia menciptakan cara hidup untuk menghindari hal yang disebut dengan kesengsaraan dengan segala bentuknya.

Dari pandangan aristippus ini dan digabungkan dengan teori atom Democritus, seorang yang bernama Epicurus mendirikan aliran filsafat yang pengikutnya disebut kamu Epicurean. Konon, mereka hidup ditaman yang pada pintu gerbangnya tertulis “Orang asing, kalian aman disini. Karena disini kenikmatan adalah kebaikan tertinggi”. Bagi mereka menjaga nilai-nilai persahabatan dan kesenian adalah bagian dari kenikmatan indrawi. Lagi pula untuk menikmati hidup menurut cita-cita Yunani kuno diperlukan kontrol-diri, kesederhanaan dan ketulusan. Nafsu harus dikekang dan dan ketentraman hati akan membantu kita menahan penderitaan.
Berkebalikan dengan kaum stoic, kaum epicurean bisa dikatakan tidak berminat sama sekali dengan kegiatan politik dan masyarakat. “Hidup dalam pengasingan” itulah yang dinasehatkan oleh Epicurus. Kita dapat menyamakan “taman bagi kaum epicurean” dengan suatu tempat yang terasing dari masyarakat banyak, saat ini.

Meskipun Socrates telah pergi, tapi tidak dengan jejak pemikirannya. Masih ada yangberpihak dengan hasil hasil pemikiran Sang filosof itu, salah satunya Zeno pendiri kaum stoic. Pada mulanya ia bergabung dengan kaum sinis dan akhirnya melahirkan sebuah pemikiran yang berbeda dengan kaum sinis tapi masih tetap terinspirasi dari Socrates. Ohh Socrates lagi. 😀

Mereka berpendapat bahwa, ada suatu kebenaran yang bersifat universal dan itu disebut hukum alam. Hukum Alam didasarkan pada pemikiran manusia yang abadi dan tak lekang oleh waktu serta berlaku secara universal juga. Mereka berbeda dengan kaum sinis, kaum stoic sangat menghargai persahabatan antar manusia dan mereka melakukan kegiatan politik. Menurut mereka manusia harus belajar untuk menerima takdirnya. Didunia ini tak ada yang terjadi secara kebetulan, semua pasti ada sebabnya. Oleh karena itu, tak ada gunanya mengeluh jika takdir sudah datang menyapa. Saat ini kita mengenal istilah “ketenangan stoik” untuk menggambarkan orang yang tidak membiarkan perasaan menguasai dirinya.

Mempertahankan apa yang benar itu sulit kawan, bahkan sangat sulit, hingga Socrates mengakhiri hidupnya dengan hukuman mati. Ia berani mati demi pemikiran yang menurutnya adalah sebuah kebenaran yang tak dapat di pungkiri. Mungkin saat itu, tidak. Tapi semuanya dapat kita lihat dan rasakan saat ini, pengembangan filosofi yang dilakukan murid-muridnya berlandaskan pemikiran agungnya, menjadi sebuah kenyataan, bukan.

Saat ini, kita hidup di zaman yang berbeda dengan Socrates, entah itu bisa dikatakan lebih baik atau lebih buruk, aku tak tahu. Tapi, jika kita memiliki pemikiran yang brilliant kenapa ngga di wujudkan. Pro dan kontra itu pasti ada, tanpa pro dan kontra itu hidup serasa ngga hidup. 😀

Dan jangan lupa, tuliskan semua pemikiranmu, mungkin ngga terwujud saat ini. Bisa jadi suatu hari nanti, sangat berguna dan terbukti kebenarannya. Sperti Socrates.. 😀

Tulisan ini sebagian besar kutipan dari buku yang berjudul Dunia Sophie.
bukan plagiat, hanya menuliskan kembali bagian yang sangat saya suka

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s