Yan, Hari ini Hujan Turun Lagi


Yan, hari ini hujan turun lagi. Disini, setelah pukul 12 siang. Seperti biasa, angin mengiring mega hitam berarak manja meyelimuti sang surya nan perkasa. Angin dingin itu, mengingatkan ku padamu. Pada engkau yang dulu pernah singgah sesaat diruang kosong hati. Padamu yang dulu sempat enggan kulupakan, pedih tuk kusimpan namun entah dimana untuk ku temukan.

Yan, aroma dingin ini mengingatkan ku akan aroma tubuhmu, aroma beku yang ingin sekali kudekap dalam pelukku, tak akan kulepas lagi. Saat itu kulihat binar senyum mu seolah memohon waktu untuk berhenti, sebentar saja. Agar kau bisa leluasa menikmati saat-saat bersamaku.

Dalam balutan gaun coklat itu, ingin rasanya aku menjadi lumut hijau yang menyelimutimu, merapuhkan tulang-tulangmu, dan akhirnya kau tak akan kemana-mana, selain bersamaku. Hanya dengan ku. Menghabiskan sisa waktu yang kau miliki, tidak dengan yang lain, hanya dengan ku.

Sesaat kurajut mimpi dalam keheningan diantara kita, diantara bulir-bulir hujan yang mempesona. Kau hanya terdiam, meski aku mencoba merasuki hati mu, mencari celah yang mungkin bisa kuselipkan surat cinta yang tak pernah terkirim ini. Ah, terkirim begitu kaku rasanya aku membayangkan kata itu. Jangankan untuk dikirim, kutulis sajapun tidak pernah. Bagaimana mungkin cerita cinta ini akan terwujud nyata, sedangkan aku hanya berani menatapnya dalam anganku saja, tidak membaginya dengan mu. Pecundang macam apa aku ini, tak mampu mengakuinya sekali saja, hanya bermimpi. Bermimpi memilikimu, bidadari tak bersayap. Rayuan gombal tak berkelas.

Yan, hari ini hujan turun lagi. Aku sangat rindu duduk disampingmu, memperhatikanmu dari sudut mataku. Menikmati senyum yang kau sembunyikan dariku. Sepertinya kau tengah mengujiku, menguji seberapa besar rasa yang tak bisa kuungkapkan ini, yang kemudian aku sebut cinta. Tak tahu mengapa, logika ku memutuskan bahwa aku tengah jatuh cinta, jatuh cinta kepadamu. kepada sepasang mata yang kutatap dengan tidak sengaja disudut kota hujan ini. Disaat seperti ini, sesaat sebelum hujan turun.

Yan, hari ini hujan turun lagi. Aku masih bisa membaca tulisanmu, lewat pesan singkat yang selalu memojokkanku dan memaksaku untuk mengakui aku merindukanmu. Aku tersenyum membaca tulisan manjamu, tapi aku, aku tak ingin kau tahu isi hatiku, tak ingin kau tahu tentang perasaanku. Walau aku mengerti, aku akan menyesalinya seumur hidupku, saat nanti kau pergi. Pergi dari ku, pergi dari sisiku dan tak kan pernah kembali. Mungkin saat itu aku, aku akan menangis dan mengatakan betapa aku menyukaimu. Betapa selama ini aku bersungguh-sungguh menyembunyikannya darimu. Darimu, bidadari tak bersayapku.

Dan, Yan, hari ini hujan turun lagi. Bersama angin kutitipkan salamku. Aku merindukanmu. Disini, di tempat yang sama saat aku jatuh cinta padamu. Yan, seperti hujan turun, hadirmu selalu kurindukan. Disini, disisiku selalu.

Advertisements

5 thoughts on “Yan, Hari ini Hujan Turun Lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s