Just Friend, katanyaaa..


Dia menganggap aku sebagai teman, katanya siih hanya teman, just friend.
Terkadang kata-kata yang terucap itu ngga seiring dengan kata hati, ngga sejalan dengan logika dan melahirkan perlakuan aneh yang out-of-control, layaknya seorang teman. Misalnya, over protective, pengen nya smsan mulu tiap malam, cemburu yang berlebihan, manja, nganterin pulang, curi-curi pandang kalo di kelas suka senyum sendiri dan masih banyak lagi yang lainnya.

Andai hati bisa bicara, andai lidah tak perlu berdusta mungkin begitu banyak manusia yang terduduk lemas di ujung jalan sana, bersandar pada pohon-pohon mati sambil berurai air mata, atau mungkin saja mereka saling perang kejujuran dan tak akan menemukan titik temu karena tak ada yang mau mengalah.

Mungkin itu salah satu alasan mengapa ia tidak jujur saja. Tapi, sepertinya itu sangat menjadi beban bagi hatinya, sehingga perasaannya yang sebenarnya tertuang dalam sikap dan tingkah lakunya sehari-hari. Tersirat dalam pandangan dan gaya bicaranya setiap hari. Mungkin saja, aku salah mengartikannya, terkadang dia selalu mengatakan aku sok tau, sedang dia sendiri tak berbagi kebenaran dengan ku. Bagaimana bisa aku menilai diriku sendiri sok tau atau emang udah tau.

Setiap hari, saat bertemu dengannya, saat menatap senyumnya itu adalah hari-hari terindah penuh warna. Saat wajah itu terlihat murung, ingin rasanya selalu ada di dekatnya dan menjadi tempatnya bersandar membagi setiap duka yang bersarang di benaknya. Sayang, tak tahu apa namanya itu, membatasi langkah. Membuat semuanya terasa kaku. Bahkan sangat kaku.. (opini ku tentang dia)

Seperti hari ini, hari yang spesial untuknya. Aku tahu dan aku ingat. Tapi, hari ini aku lupa untuk hanya sekadar mengulurkan tangan dan mengucapkan selamat. Hal sepele yang ternyata sangat dan teramat sangat di harapkannya dari aku di tanggal yang berulang untuk yang ke duapuluh kali nya. Tersadarkan dari kehidupan nyata, saat pintu kamar terbuka. Tahun depan, aku ngga akan bisa lagi menjabat tangannya dan mengucapkan “happy birthday, ya”. Tahun depan aku ngga akan lagi bisa bertemu dengannya, dan tahun depan, aku ngga akan bisa lagi melihat senyumnya saat menggoda ku sambil melepas rindu. Saat itu juga aku mencarinya, ternyata dia sudah dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Ya mau gimana lagi..
Kecewa, aku sungguh sangat mengerti rasanya. Saat orang yang sangat kita harapkan untuk hanya sekadar mengucapkan selamat, ternyata ngga melakukannya bahkan melupakannya hingga seminggu kemudian. Aku pernah merasakannya. Dan wajar, ketika dia sedikit berbeda hari ini. Dia sedikit lebih sensitive dan mudah emosi, efek dari sangat kecewa kali yaa..

Hanya kata maaf berkali-kali yang bisa aku kirim lewat pesan singkat dan itupun di tanggapi dingin dan seolah tidak peduli. Tapi, pada akhirnya dia yang minta maaf.. Jadi?? Semua ini membuat saya bingung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s