Gadis Desa


Kemarin sore, ada seorang teman yang malu saat di sebut ‘gadis desa’. Kenapa gitu ya? Apa yang salah dengan sebutan gadis desa? Kalo aku sih lebih seneng di panggil gadis desa ketimbang cewe kota. Gadis desa bukan berarti orang yang norak kan? bukan berarti juga seorang yang kolot bin udik. Gadis desa itu sederhana, sesederhana melati putih di halaman gubuk tua.

Sudut pandang yang berbeda, mungkin karena pengaruh lingkungan hidup kali ya. Mereka yang terbiasa dengan hiruk pikuk keramaian kehidupan ibukota, berfikir bahwa kehidupan desa itu ketinggalan alias ga up-to-date. Buat aku, hidup di kota besar itu ibarat minum kopi tanpa gula. Panas, Pahit dan Pekat. Lingkungan hidup yang ngga bersahabat, ego yang menjulang tinggi, attitude yang terlupa dan belas kasih yang tergadaikan.

Buat aku, hidup terindah itu ada di desa, tempat aku di lahirkan, di besarkan dan sekarang aku meninggalkan keduanya. Tempat kelahiran dan tempat aku di besarkan adalah tempat paling nyaman, menurut ku selama ini. Hutan hijau pekat, aliran sungai membentur bebatuan, di tambah gurauan angin menggoda pepohonan. ahh.. indah nya semua itu. Piringan sawah di tepi sungai, jejeran bukit yang selalu berdiri menjaga kampung dan tiga gunung yang saling bertautan tak lelah menjaga.

Aku selalu senang bermain ke hutan pinus di bukit seberang kampung, di puncak bukit itu ada tabek (kolam), sehingga kami menyebutnya ‘Pucak Tabek‘. Aroma pinus yang menenangkan selalu mengobati galau yang kadang singgah. Aku senang tinggal di desa. Aku bisa main ke sawah, memancing di sungai, atau memancing belut yang sampai hari ini aku belum bisa… 😀

Aku paling senang saat musim panen padi tiba. Aku memang ngga bisa nyabik (memotong padi yang sudah masak), tapi aku suka datang untuk sekedar makan siang dan ikut memukul-mukul rumpun padi yang telah di sabik, biar bulirnya lepas dari tangkai. Aku suka saat merang di bakar,  asap putih yang mengepul tipis membuat desa-ku seperti sedang berembun meski matahari mulai meninggi.

Main ke sawah itu seru, tapi aku benci lintah, lintah berwarna pink lembut yang ada di sawah nenek di sebalah bawah. Aku bisa teriak sambil loncat-loncat kalo itu lintah menempel di kaki. Soalnya itu lintah kan ngisap darah sampe dia kenyang, aku ga ikhlas berbagi darah dengan lintah.. -_-

Hidup di desa itu sederhana, sesederhana melati putih yang tumbuh di halaman gubuk tua. Sederhana dan bermakna.

Bogor, Oktober 2013 © Dian Purnamasari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s